Mataram (Suara NTB)-Selama periode 1 Januari – 31 Mei 2024 telah terjadi bencana alam di wilayah Provinsi NTB sebanyak 62 kejadian. Dari jumlah tersebut, bencana yang mendominasi yaitu bencana banjir atau banjir bandang dengan 25 kejadian serta cuaca ekstrem atau angin puting beliung 25 kejadian.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB H. Ahmadi mengatakan, selain cuaca ekstrem dan banjir yang cukup mendominasi, bencana tanah longsor juga terjadi di NTB selama lima bulan terakhir sebanyak tujuh kejadian, gempa bumi dua kejadian, serta gelombang pasang/rob tiga kejadian.
“Adapun bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan nol kejadian di NTB dari Januari sampai Mei 2024,” kata Ahmadi dalam laporan update kejadian bencana NTB yang dirilis Senin 3 Juni 2024 kemarin.
Dari peta bencana yang dibuat oleh BPBD NTB terlihat seluruh kabupaten/kota di daerah ini memiliki bencana masing-masing. Namum umumnya, setiap daerah pernah dilanda bencana banjir atau banjir bandang selama empat bulan terakhir.
Bencana alam yang melanda NTB tersebut telah berdampak kepada 30.661 jiwa, 17 luka-luka dan satu orang meninggal dunia. Dampak bencana alam juga telah merusak 144 unit rumah dengan Tingkat kerusakan berat, sedang dan ringan.
Bencana alam juga tercatat telah merusak infrastruktur publik seperti satu unit bendungan, tujuh unit tanggul, satu Kawasan perkatoran, tujuh unit pertokoan, lima unit jembatan serta satu titik jalan.
Selanjutnya BPBD NTB memaparkan data terkait dengan prakiraan cuaca seperti yang dirilis oleh BMKG Stasiun Klimatologi NTB akhir pekan kemarin. Dimana wilayah Provinsi NTB kini mulai memasuki periode musim kemarau. Hal ini terlihat dari curah hujan pada dasarian III Mei 2024 yang secara umum dalam kategori rendah.
Berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) wilayah NTB berada pada kategori sangat panjang yakni 31 sampai 60 hari. Termasuk, dari prediksi potensi hujan di dasarian I Juni 2024 (1-10 Juni 2024), kurang lebih 20 mm/dasarian dengan probabilitas 80 sampai 90 persen.
“Berdasarkan monitoring, analisis dan prediksi curah hujan dasarian, maka kami mengingatkan terdapat indikasi kekeringan meteorologis (iklim) sebagai dampak dari kejadian hari kering berturut-turut dengan indikator hari tanpa hujan,” jelas prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana dalam keterangannya akhir pekan kemarin.
Sejumlah daerah di Provinsi NTB pun mendapat peringatan dini agar mengantisipasi dampak terhadap indikasi kekeringan meteorologis tersebut. Peringatan dini level siaga kekeringan ada di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, serta Kecamatan Lape dan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.
Level waspada ada di Kecamatan Pajo, Huu, Kilo dan Pekan Kabupaten Dompu. Kemudian sejumlah kecamatan di Kabupaten Bima seperti Kecamatan Belo, Bolo, Donggo, Lambitu, Lambu, Madapangga, Monta, Palibelo, Sanggar, Sape, Tambora dan Woha.
Kemudian Kecamatan Raba dan Rasanae Timur Kota Bima. Diikuti, Kecamatan Gerung, Kediri, dan Lembar Kabupaten Lombok Barat. Lombok Tengah di Kecamatan Batukliang, Batukliang Utara, Janapria, Praya, Praya Barat, Praya Barat Daya, Praya Tengah, dan Praya Timur.
Kabupaten Lombok Timur di Kecamatan Jerowaru, Keruak, Masbagik, Montong Gading, Pringgabaya, Sakra Barat, Sambelia, Sembalun, Sikur, Suela, Sukamulia, Terara.
Kemudian, Kabupaten Lombok Utara di Kecamatan Bayan dan Tanjung. Kabupaten Sumbawa yaitu di Empang, Labuhan Badas, Lenangguar, Moyo Utara, Orong Telu, Rhee, Sumbawa, Unter Iwes, dan Utan. Sumbawa Barat di Kecamatan Jereweh dan Maluk.
Masyarakat NTB yang berada di daerah tersebut diimbau agar dapat menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien. Serta, perlu mewaspadai akan terjadinya bencana kebakaran hutan, lahan, dan kekeringan yang umumnya terjadi pada periode puncak musim kemarau. (ris)


