MASYARAKAT di Kelurahan Dayan Peken, Kecamatan Ampenan telah terbiasa menanam kelor dan cabai rawit. Dua komoditi ini menjadi kebutuhan rutin untuk mengurangi biaya dapur.
Lurah Dayan Peken, Mujtahidin menerangkan, tanaman kelor dan cabai yang ditanam oleh warga tidak semata-mata untuk kebutuhan lomba pekarangan pangan Lestari (P2L), melainkan sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Warga menilai cabai dan kelor merupakan tanaman wajib ditanam, selain untuk mengurangi biaya dapur, juga kaya dengan nutrisi. “Seperti kelor nutrisinya sangat bagus untuk balita,” terangnya.
Di wilayahnya telah lama terbentuk kelompok wanita tani (KWT). KWT kelurahan mempersiapkan dan menunjuk satu lingkungan untuk mengikuti lomba P2L tingkat kota. Tim juri berasal dari Tim Penggerak PKK Kecamatan Ampenan dan Dinas Pertanian Kota Mataram, telah turun melakukan penilaian serta pembinaan kepada warga.
Kriteria penilaian berupa kemandirian serta sebaran tanaman cabai dan kelor di lingkungan. “Kita tunjuk Lingkungan Geguntur untuk mengikuti lomba,” sebutnya.
Mujtahiddin menyebutkan, tanaman cabai dan kelor memiliki khasiat terutama bagi balita untuk mencegah stunting. Sementara, cabai rawit disarankan ditanam untuk menekan inflasi. Selama ini, pemicu inflasi di Kota Mataram disebabkan oleh tingginya harga cabai.
Oleh karena itu, kemandirian warga menanam dua komoditi itu sangat memberikan dampak positif untuk kesehatan balita serta membantu pemerintah menekan inflasi. “Dan, paling penting itu adalah kebutuhan warga tercukupi tidak harus belanja ke pasar,” katanya.
Ia berharap kepedulian masyarakat menanam cabai dan kelor di pekarangan rumah mereka secara berkelanjutan. Artinya, tidak menanam dua komoditi itu hanya untuk kepentingan penilaian lomba. Di samping itu, kreativitas masyarakat di Lingkungan Kebon Roek bisa diikuti oleh lingkungan lainnya. (cem)



