Mataram (Suara NTB) – Dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram (Fatepa Unram), Dr. Kurniawan Yuniarto memaparkan riset terbaru mereka berfokus pada teknologi penyimpanan canggih untuk komoditas pertanian segar seperti buah dan sayur. Riset ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kehilangan hasil pertanian akibat perlakuan pascapanen yang tidak memadai, dengan laporan FAO menunjukkan angka kehilangan global mencapai 35-40% dan bahkan hingga 60% di negara berkembang.
Riset ini, tim mengembangkan dua teknologi utama: “Augmented Storage” dan “Digital Inventory-Traceability“. Teknologi “Augmented Storage” menggunakan sistem kontrol udara dengan wireless sensor network untuk menjaga kondisi penyimpanan yang ideal dan memperpanjang umur simpan komoditas.
Sementara itu, “Digital Inventory-Traceability” berfungsi untuk memastikan keamanan pangan dengan mencatat secara digital asal barang, kualitas, dan waktu panen.
Manfaat terbesar dalam riset ini adalah mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan petani dan eksportir. Namun, dukungan dari program Matching Fund dan tim riset yang solid telah memfasilitasi implementasi teknologi ini dengan sukses. Teknologi ini telah diterima dengan baik oleh petani dan eksportir, terbukti dengan ekspor manggis langsung dari Lingsar ke Cina tanpa melewati kota besar lainnya.
“Alhamdulillah untuk program Matching Fund yang kami jalani tahun 2023 tidak banyak mengalami kendala baik secara teknis maupun sosial. Kebutuhan teknologi yang diperlukan oleh pasar atau mitra dan adanya tim solid dalam merealisasikan teknologi membantu dalam keseluruhan tahapan proses difusi teknologi,” papar Kurniawan, Kamis, 29 Agustus 2024.
Teknologi augmented storage yang dikembangkan telah membuktikan keberdayaan pelaku usaha lokal dan pemerintah daerah, dari desa hingga provinsi. Kolaborasi tim riset Unram dengan PT Bintang Agro Sentosa berhasil mengirimkan ekspor manggis ke China sebanyak lebih dari 60 ton dari Lingsar selama periode Oktober-Desember 2023. Sebelumnya, ekspor manggis harus melewati kota besar seperti Bali, Surabaya, atau Jakarta.
“Para petani manggis yang dibina oleh tim sangat senang dengan kehadiran teknologi ini, karena memungkinkan mereka membangun brand dan meningkatkan eksistensi komoditas mereka di pasar China. Manggis Lingsar bahkan sudah mendapat brand di pasar China,” ungkap Kurniawan.
Dukungan pendanaan dari DUDI dan Unram juga berperan penting dalam mewujudkan riset ini. Ke depan, tim riset berencana untuk mengembangkan teknologi ini ke dalam sistem penyimpanan transportasi dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendukung ketahanan pangan nasional. (ron)