Giri Menang (Suara NTB) – Pemkab Lombok Barat (Lobar) masih kesulitan mencari lokasi untuk pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, menyusul rencana TPAR Kebon Kongok. Beberapa lokasi yang sudah dikaji untuk TPA belum disetujui oleh warga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lobar, Hermansyah mengatakan bulan Desember ini TPAR Kebon Kongok kalau tidak dilakukan pengembangan maka dipekrirakan mengalami overload. “Artinya sudah tidak bisa buang sampah disana, makanya tahun 2025 masing-masing daerah diminta untuk mengeluarkan pembiayaan untuk perluasan landfill baru,”kata Hermansyah belum malam ini.
Pihaknya diberikan tugas untuk mencari lokasi untuk TPA agar tahun 2025 Lobar bisa memiliki TPA mandiri. Tantangan dihadapi, warga yang mau daerahnya dijadikan lokasi TPA yang belum ada. “Warga yang daerahnya mau dijadikan lokasi TPA itu yang belum ada,”aku dia. Sejauh ini ada gambaran calon lokasi sekitar 5-6 titik, namun masih terkendala belum ada izin dari warga.
Pihaknya juga berupaya melobi di beberapa desa untuk dijadikan lokasi TPA, namun masih mentok. Salah satunya di Narmada, ia berharap warga di wilayah Narmada mau dibangunkan TPA. Seperti di daerah Peresak, namun warga juga menolak. “Ini tantangan yang kita hadapi sekarang,”imbuhnya. Disamping itu, Pihaknya perlu membuat Feasibility study (FS) atau studi kelayakan) dan lainnya.
Sampah masih menjadi problem utama daerah ini. Dalam sehari produksi sampah di Lobar mencapai 300 ton, sementara yang bisa dikelola baik dibuang dan diolah mencapai 60 persennya. Sedangkan sisanya 40 persen belum bisa ditangani, sehingga ini yang menjadi persoalan.Sementara dalam penanganan pengangkutan sampah ini terkendala keterbatasan armada. Armada yang dimiliki hanya sekitar 20 unit. Jumlah ini tidak bisa mengakomodir kebutuhan pengangkutan sampah Lobar setiap hari.
Diakui Herman, dalam pengelolaan TPA itu tidak sembarang. Karena ada sistemnya agar air lindi dari TPA itu tidak mencemari lingkungan. Sehingga air lindi ini dipasangkan biomemban dan pipa kemudian dialiri ke kolam untuk diolah menjadi air jernih. Pengelolaan TPA ini diakuinya berat, kalau mau mengelola TPA sendiri. Karena harus menyiapkan fasilitas, infrastruktur dan SDM. Di satu sisi diakuinya belum ada fasilitas pengolahan yang modern. (her)



