Sumbawa Besar (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa, sudah menyiapkan opsi dalam penanganan jembatan dusun Kayumadu pasca rusak diterjang banjir beberapa tahun lalu supaya bisa kembali digunakan masyarakat.
“Kita sudah siapkan dua opsi untuk sementara ini yakni membangun jembatan baru dengan membongkar yang ada saat ini dan membuat jembatan limpas, ” Kata kepala pelaksana BPBD Sumbawa, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Dr. Rusdianto, kepada Suara NTB, Jumat, 21 Februari 2025.
Dr. Anto melanjutkan, untuk pembangunan jembatan baru hasil hitungan sementara kebutuhan anggarannya mencapai angka Rp3 miliar. Sementara untuk jembatan limpas hasil hitungan saat ini dibutuhkan anggaran sekitar Rp200-300 juta karena tidak terlalu panjang.
“Yang paling memungkinkan untuk kita laksanakan saat ini adalah jembatan limpas sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat dan waktu pengerjaannya juga cukup cepat,” ucapnya.
Ia menambahkan, pihaknya pun akan membahas lebih lanjut dengan Dinas PUPR dan Bappeda untuk membicarakan bagaimana teknis pengerjaan lebih lanjut termasuk kebutuhan anggarannya. Sementara untuk saat ini jembatan tersebut hanya bisa di akses oleh masyarakat menggunakan motor dan jalan kaki.
“Kita akan bahas lebih rinci bersama leading sector baik itu kebutuhan anggarannya maupun teknis pelaksanaan nantinya,” ujarnya.
Sebelumnya kepada Desa Badas, Kecamatan Labuhan Badas, Usman berharap pemerintah bisa segera menangani jembatan yang sudah rusak sejak tiga tahun lalu tersebut, karena ada puluhan siswa SD, SMP, dan SMA yang harus berjalan cukup jauh untuk ke sekolah.
“Kalau untuk siswa SD mereka harus nyeberang dulu ke Dusun Kanar dengan cara memutar cukup jauh sekitar 5 kilometer termasuk SMP dan SMA sehingga diharapkan jembatan ini bisa segera dibangun,” ujarnya.
Karena jalan yang memutar cukup jauh, tidak sedikit juga siswa khususnya SMP dan SMA nekat menyeberangi sungai di tengah kondisi air yang cukup deras. Hal tersebut terpaksa dilakukan, karena jika memutar maka waktu yang dibutuhkan cukup lama untuk sampai di sekolah.
“Kalau musim penghujan tinggi airnya bisa mencapai 1 meter, sehingga kita khawatir juga jika ada siswa yang nekat menyeberang karena bisa saja terseret arus,” ucapnya.
Usman berharap pemerintah segera merespon keluhan masyarakat tersebut karena jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses masyarakat. Karena tidak hanya untuk sekolah saja jembatan ini juga berfungsi sebagai akses utama masyarakat membawa hasil pertanian.
“Kami sudah laporkan persoalan ini ke pemerintah termasuk rapat dengar pendapat di DPRD, tetapi lagi-lagi untuk penanganan jembatan ini membutuhkan anggaran yang cukup besar sekitar Rp3 miliar lebih,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah bisa mencari solusi jangka pendek terhadap kondisi tersebut. Salah satunya dengan membuat jembatan limpas yang tidak membutuhkan anggaran besar dan melakukan pengalihan arus sungai untuk sementara waktu.
“Minimal kita bisa dibuatkan jembatan limpas supaya akses masyarakat tidak lagi terganggu, karena kerusakan jembatan ini sudah cukup lama tetapi tidak kunjung ada penanganan,” tukasnya. (ils)