Oleh: Taufan Rahmadi
Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata
DALAM Musrenbang RPJMD Kota Mataram yang digelar Rabu 11 Juni 2025 dan dibuka oleh Walikota Mataram, Dr.H. Mohan Roliskana, satu kata ini menjadi pusat perhatian. HARUM. Akronim dari Harmoni, Aman, Ramah, Unggul, dan Mandiri ini bukan sekadar rangkaian kata indah. Ini adalah penanda arah, penopang semangat, dan peta jalan menuju masa depan Kota Mataram yang inklusif, kompetitif, dan berdaya saing global, terutama dalam sektor yang sangat strategis, pariwisata.
Namun yang lebih mendalam adalah tafsir simbolik dari kata “HARUM” itu sendiri. Kepala Bappeda NTB, Dr.Ir.H. Iswandi , M.Si, dengan cermat menafsirkan HARUM sebagai sinonim dari masyhur terkenal, dikenal dan mendunia. Dari tafsir ini, kita menangkap pesan strategis. Kota Mataram yang HARUM adalah Kota Mataram yang mendunia. Dan ketika Mataram mendunia, maka NTB pun ikut bersinar di panggung global.
A. Mataram: Simbol Etalase NTB
Sebagai Ibu Kota Provinsi NTB, Mataram memiliki posisi strategis sebagai entry point budaya, sejarah, dan peradaban. Mataram bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga jendela pertama yang dibuka oleh wisatawan, investor, maupun pemangku kepentingan internasional lainnya. Maka, jika Kota Mataram berhasil mewujudkan visinya menjadi kota yang HARUM dan masyhur, kota ini tidak hanya mengangkat dirinya, tetapi juga mengangkat seluruh NTB ke panggung dunia.
Dalam dunia pariwisata global hari ini, branding menjadi kunci utama. Kota-kota seperti Kyoto, Ubud, atau Porto menjadi terkenal bukan semata karena keindahan alamnya. Tetapi karena berhasil mengembangkan identitas kultural yang kuat, atmosfer yang ramah, sistem yang aman, pelayanan yang unggul, dan masyarakat yang mandiri. Lima unsur ini, secara tidak langsung, adalah elemen-elemen dari HARUM itu sendiri.
B. Visi HARUM dan Konteks Global
Apa yang bisa dimaknai dari “Pariwisata HARUM Mendunia”?
Pertama, Harmoni. Mataram harus menjadi kota yang harmonis antara budaya tradisional Sasak, Bali, Jawa, Arab dan komunitas Tionghoa yang telah lama menyatu. Pariwisata berbasis harmoni sosial , harmoni sejarah adalah daya tarik yang langka di dunia yang semakin terfragmentasi.
Kedua, Aman. Dalam konteks pariwisata pascapandemi dan geopolitik global yang rentan, faktor keamanan menjadi prioritas utama wisatawan. Kota yang aman tidak hanya bebas dari kriminalitas, tetapi juga memiliki infrastruktur tangguh, sistem kesehatan mumpuni, dan mitigasi bencana yang kuat.
Ketiga, Ramah. Keramahan warga menjadi kekuatan lunak (soft power) yang sangat kuat dalam membangun loyalitas wisatawan. Hal ini telah dibuktikan oleh kota-kota seperti Chiang Mai di Thailand atau Tottori di Jepang yang dikenal sebagai kota paling ramah wisatawan.
Keempat, Unggul. Keunggulan daya saing tidak hanya dibangun dari infrastruktur fisik, tetapi juga inovasi layanan digital, penyelenggaraan event internasional, dan kemitraan global. Mataram harus menjadi tuan rumah bagi forum budaya, festival internasional, dan industri kreatif berskala dunia.
Kelima, Mandiri. Pariwisata yang terlalu bergantung pada investor eksternal dan agen besar justru rawan stagnasi. Mataram perlu menumbuhkan ekosistem UMKM pariwisata dan ekraf yang tangguh, inovatif, dan berbasis komunitas lokal.
C. Dari Spirit Lokal Menuju Citra Global
Apa yang dicanangkan oleh Kota Mataram sejatinya sejalan dengan visi besar NTB untuk menjadi provinsi yang maju, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Gagasan “HARUM Mendunia” bukan sekadar mimpi. Tetapi merupakan strategi branding terintegrasi yang menempatkan identitas lokal sebagai daya saing global.
Suksesnya MotoGP Mandalika, meningkatnya investasi di kawasan ekonomi khusus (KEK), serta pertumbuhan sektor perhotelan dan akomodasi adalah indikasi bahwa NTB termasuk Kota Mataram mulai dikenal dunia. Namun, tantangannya adalah bagaimana membuat kunjungan wisatawan lebih berkualitas, berdampak panjang, dan berakar pada kekuatan lokal.
Untuk itu, Mataram perlu menyusun kebijakan yang mendukung tiga hal:
- Kolaborasi antar kabupaten/kota di NTB, agar tidak terjadi kompetisi tidak sehat dalam promosi destinasi.
- Pendidikan dan pelatihan pariwisata, agar SDM lokal siap bersaing di era ekonomi kreatif global.
- Digitalisasi dan narasi branding yang kuat, agar HARUM benar-benar menjadi top of mind di mata wisatawan global.
- Menjadikan Mataram sebagai ‘’World-Class Local Destination’’
Pariwisata HARUM bukan sekadar visi administrative. Melainkan sebuah konsep pembangunan yang menyatukan manusia, ruang, dan nilai. Visi ini membuka peluang untuk menjadikan Mataram sebagai model kota pariwisata berkelas dunia yang tetap setia pada akar budayanya.
Jika HARUM mampu diterjemahkan ke dalam kebijakan, program, dan implementasi lintas sektor mulai dari perencanaan ruang, pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga digitalisasi maka Mataram bukan hanya akan harum di NTB, tapi juga akan harum hingga ke penjuru dunia. Dan pada saat itulah, kita tidak hanya membangun kota, tetapi membangun nama baik bangsa.


