Tanjung (Suara NTB) – Kelompok Tani di Desa Gondang, Kecamatan Gangga resah, lantaran terowongan irigasi Pekatan Kanan yang terletak di Bendung Pekatan sering tersumbat. Terowongan ini sendiri menjadi pintu utama distribusi air yang dibutuhkan petani, sehingga Poktan minta Pemda serius melakukan penanganan.
“Luas areal tanam di bawah P3A Pelopor Desa Gondang sebanyak 270 hektar. Hampir di setiap musim hujan, kami harus gorong royong karena adanya penyumbatan irigasi Pekatan Kanan,” ungkap Ketua P3A Pelopor, Rusmaidi, Rabu, 11 Juni 2025.
Ia menjelaskan, Bendung Pekatan mengakomodir dua jalur distribusi air. Irigasi Pekatanan Kiri menuju lahan sawah bagi petani di Desa Jenggala, Samaguna, dan sebagian Tanjung. Sedangkan, Irigasi Pekatan Kanan, mendistribusikan air untuk petani 4 dusun di Desa Gondang.
Konstruksi terowongan pada saluran Irigasi Pekatan Kanan, jelas dia, memiliki bentang sekitar 24 meter. Tidak adanya penyaring pada mulut Terowongan, menyebabkan material limbah pepohonan hanyut dan tertahan pada terowongan.
“Petani kami sampai heran dan bertanya kepada pengurus, mengapa tidak ada air padahal musim hujan. Untuk mengatasi kebutuhan irigasi mendesak, kami harus turun ke lokasi untuk gotong royong. Seperti musim tanam tahun lalu, kami harus mengangkat sebatang pohon aren dari Terowongan,” imbuhnya.
Rusmaidi pun menuntut Pemda Lombok Utara melalui OPD terkait melakukan Restrukturiasi Saluran Irigasi pada bibir terowongan. Pasalnya, sumbatan yang terjadi secara berulang-ulang menjadi hambatan besar dan mempengaruhi produktivitas petani.
“Jalur Terowongan ini sering macet. Sekarang saja macet karena adanya limbah sampah yang hanyut dari hulu sungai,” tambahnya.
Selain persoalan itu, pihaknya juga mendesak agar Pemda memperhatikan kualitas jaringan irigasi. Panjang saluran irigasi untuk petani di Desa Gondang mencapai 16.000 Km. Namun hanya 50 persen saja yang memiliki kualitas baik (konstruksi permanen). Setengah saluran sisanya, kendati masih mendistribusikan air namun laju air untuk sampai ke persawahan warga tergolong lambat.
“Jika Pemda memandang potensi kami mendukung produksi ketahanan pangan daerah, maka sarana dan prasarana agar didistribusikan secara proporsional. Jangan melewatkan Kelompok Tani kami dari anggaran program Pemda,” tandasnya. (ari)


