Sumbawa Besar (Suara NTB) – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sumbawa, mencatat sedikitnya ada lima dari 157 desa di wilayah setempat yang masuk dalam kategori zona merah penyebaran Narkotika karena banyaknya kasus yang terungkap.
“Jadi, lima desa tersebut menjadi atensi kami untuk menekan kasus penyebaran Narkotika. Kami juga berencana akan membentuk desa bebas dari Narkotika (Bersinar),” kata kepala BNNK Sumbawa, AKBP Denny Priadi kepada Suara NTB, Senin, 30 Juni 2025.
Denny melanjutkan, lima desa tersebut yakni, desa labuhan Badas di kecamatan Labuhan Badas, Desa Labuhan Burung di kecamatan Buer. Selain itu ada juga desa Baru, Juranalas, dan Kalimango di Kecamatan Alas.
“Kecamatan Alas cukup mendominasi desa penyumbang kasus Narkotika dan kami akan memberikan atensi khusus dengan harapan bisa menekan kasus tersebut,” ujarnya.
mencatat angka penyalahguna narkoba usia pelajar yang direhabilitasi hingga bulan Juni tahun 2025 mencapai 52 orang dari total angka kunjungan pasien mencapai 69 orang.
“Penyalahguna narkotika di kalangan pelajar masih cukup tinggi di tahun 2025, bahkan ada 7 orang anak dibawa 15 tahun yang kita rehabilitasi,” Kata Kepala BNNK Sumbawa, AKBP Denny Priadi kepada Suara NTB, Kamis, 19 Juni 2025.
Denny melanjutkan, sementara berdasarkan data jumlah penyalahguna yang direhabilitasi didominasi usia pelajar. Bahkan ada 7 orang pelajar di bawah 15 tahun yang direhabilitasi di tahun 2025 dan usia 15-25 tahun mencapai 45 orang.
“Jadi, untuk pelajar SMP yang kita rehabilitasi ada 7 orang anak dan SMA 19 anak dan rata-rata mereka terindikasi sebagai penyalahguna narkotika jenis sabu,” ucapnya.
Sementara berdasarkan lokasi yang terpapar penyalahguna tertinggi dan minta direhabilitasi di tahun 2025 di didominasi kecamatan Sumbawa sebanyak 17 orang. Kecamatan Plampang, Alas Barat, dan Empang sama-sama menyumbang 8 orang anak.
“Tahun 2025 untuk wilayah terpapar masih tetap sama di kecamatan Sumbawa yang menjadi penyumbang tertinggi 17 orang, kalau untuk Kecamatan lain jumlahnya cenderung menurun dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.
Diakuinya, banyaknya pelajar yang minta untuk direbilitasi mengindikasikan bahwa pengguna narkobanya cukup tinggi. Meski demikian, dirinya mengapresiasi banyaknya remaja yang sadar dan datang untuk dilakukan rehabilitasi.
“Angka rehabilitasi kita tinggi, merupakan bukti tingkat kesadaran masyarakat kita untuk keluar dari jeratan narkoba juga tinggi,” tukasnya. (ils)


