Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mengerahkan lebih dari 100 tenaga kesehatan ke titik-titik pengungsian korban banjir yang melanda Kota Mataram sejak Minggu malam, 6 Juli 2025. Banjir setinggi lebih dari dua meter ini memaksa ribuan warga mengungsi ke masjid dan fasilitas umum.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. Emirald Isfihan, menyampaikan bahwa langkah cepat dilakukan guna mengurangi dampak kesehatan pascabanjir dan mencegah penyebaran penyakit di lokasi pengungsian.
“Kita gerak cepat, agar dampak pasca banjir ini tidak terlalu besar (dirasakan korban banjir), serta meminimalisir penyebaran penyakit (pasca banjir),” kata Emirald saat ditemui di lokasi pengungsian, Selasa, 8 Juli 2025.
Dari data Dinas Kesehatan, terdapat 22 tim medis dari puskesmas, tim dari RSUD Kota Mataram, serta 70 relawan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mataram yang turun langsung membantu penanganan. Masing-masing titik evakuasi ditangani oleh rata-rata 10 tenaga kesehatan.
“Semua bergerak untuk melakukan evakuasi, ada 22 tim dari puskesmas, rumah sakit, 70 relawan dari IDI. Rata-rata ada 10 orang (nakes bertugas) di satu titik, dan ada 10 titik (evakuasi),” jelas Emirald.
Tim kesehatan juga dibagi dalam dua tim siaga darurat, termasuk Tim Gerak Cepat (TGC) untuk menangani kasus gawat darurat di lapangan. Sejak hari pertama, tercatat 240 korban banjir telah mendapatkan penanganan, dan jumlah ini bertambah menjadi 300 orang pada hari kedua.
“(Itu terbagi ke dalam) dua tim siaga darurat, untuk (korban) yang gawat darurat (di handel) Tim Gerak Cepat (TGC). Di hari pertama ada 240 orang (korban banjir) yang kita tangani, hari kedua jadi 300 orang di 10 titik (pengungsi yang ada di masjid, dan fasilitas umum). Dari 240 (orang) itu ada sekitar 27-35 orang yang dirawat di rumah sakit dan kita rujuk,” bebernya.
Sebanyak 35 korban banjir diketahui mengalami luka berat dan telah dirujuk ke rumah sakit. Salah satunya mengalami pendarahan otak diduga akibat terjatuh saat menyelamatkan diri dari banjir.
“35 orang (dalam kondisi luka berat) dan sudah kita rujuk ke rumah sakit. Salah satu (korban) yang luka berat (dalam kondisi) pendarahan otak, kemungkinan karena terjatuh (saat banjir), dan ada juga yang luka agak besar sehingga perlu di jahit,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pemkot Mataram mencatat sebanyak 30 ribu jiwa atau sekitar 6.700 kepala keluarga terdampak banjir besar. Wilayah dengan dampak terparah meliputi Lingkungan Kekalik, Kebon Duren, hingga Abian Tubuh. Pemerintah terus mengupayakan layanan darurat, termasuk dapur umum dan distribusi bantuan logistik, untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi di tengah masa pemulihan.(hir)



