spot_img
Sabtu, Januari 31, 2026
spot_img
BerandaPOLHUKAMPOLITIKBanjir Mataram, Made Slamet Soroti Pengelolaan Sampah dan Serukan Kesadaran Kolektif

Banjir Mataram, Made Slamet Soroti Pengelolaan Sampah dan Serukan Kesadaran Kolektif

Mataram (Suara NTB) – Banjir besar yang melanda Kota Mataram pada Minggu, 6 Juli 2025 kembali membuka persoalan lama soal pengelolaan sampah. Sampah yang menyumbat saluran drainase diduga menjadi salah satu faktor utama memperparah banjir di ibu kota Provinsi NTB tersebut.

Menanggapi hal itu, anggota DPRD Provinsi NTB dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Mataram, Made Slamet, menilai persoalan sampah merupakan masalah klasik yang belum tertangani secara serius.

“Masalah sampah ini sudah berlangsung lama. Meski ada berbagai program penanganan, hasilnya belum terlihat signifikan karena kurangnya sinergi antara pemerintah provinsi dan kota,” kata Slamet saat ditemui pada Selasa, 8 Juli 2025.

Menurutnya, ketidakterpaduan antara pemerintah provinsi dan kota dalam menangani sampah memperburuk kondisi lingkungan. Ia menyebutkan bahwa masing-masing instansi masih berjalan sendiri-sendiri, tanpa koordinasi yang kuat.

“Provinsi seharusnya bertindak sebagai koordinator, sementara kota sebagai pelaksana teknis. Tapi yang terjadi justru saling menunggu keputusan dan saling lempar tanggung jawab,” ujarnya.

Politisi PDIP ini juga menyoroti hasil studi banding sejumlah pejabat daerah ke luar daerah yang tidak diikuti dengan implementasi nyata di lapangan. Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah bukan semata soal infrastruktur, tetapi juga soal perubahan perilaku masyarakat.

“Kita harus mulai dari nol. Kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah dari rumah masih sangat rendah,” tambahnya.

Dari sisi fasilitas, Slamet menyoroti kurangnya armada pengangkut sampah seperti truk dan kendaraan roda tiga. Ia menilai Pemerintah Provinsi NTB seharusnya mendukung pemenuhan sarana tersebut, terutama karena banyak sampah dari wilayah provinsi yang bermuara ke Kota Mataram.

“Sumber daya manusia juga perlu mendapat perhatian. Petugas kebersihan tidak bisa bekerja sendirian tanpa dukungan memadai dari pemerintah,” tegasnya.

Ia juga mendorong adanya pendekatan kultural melalui tokoh agama untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan masyarakat. Menurutnya, pesan-pesan kebersihan bisa disampaikan melalui ceramah, khotbah Jumat, atau kegiatan keagamaan lainnya.

“Kesadaran masyarakat bisa tumbuh jika tokoh agama ikut menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan. Bukankah kebersihan bagian dari iman?” katanya.

Slamet berharap bencana banjir ini dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah dan meningkatkan kesadaran bersama.

“Sudah saatnya berhenti saling menyalahkan. Pemerintah kota, provinsi, dan masyarakat harus bekerja sama. Ini untuk kepentingan bersama,” pungkasnya. (ndi)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO