Mataram (Suara NTB) – Dua hari berlalu pasca-banjir melanda beberapa wilayah di Kota Mataram. Salah satu wilayah yang terdampak adalah RT 4, Lingkungan Majeluk, Kelurahan Pejanggik, Kota Mataram. Beberapa masyarakat mengakui masih membutuhkan bantuan sembako dan pakaian layak pakai.
Salah satu warga RT 4, Lingkungan Majeluk mengungkapkan beberapa relawan datang membawa nasi bungkus, air, dan mi beberapa dus. Namun, ia dan warga lain masih membutuhkan bantuan sembako dan kebutuhan pokok lainnya. “Selain pakaian, makanan. Kan tetap makanan tiga kali sehari. Kompor sudah habis semua. Mau beli tidak ada uang,” ujarnya kepada Suara NTB, Selasa, (8/7/2025).
Ia mengungkapkan, sebelumnya pihak Pemprov NTB memang sudah datang. Tapi, sekadar untuk mendata beberapa rumah warga yang rusak serta jumlah warga yang terdampak. “Sudah kemarin dari Pemprov, tapi belum ada yang memberi bantuan. Datang ngelihat-lihat. Lokasi-lokasi itu didata. Kalau Dinsos juga ada yang datang,” ungkapnya.
Dari pantauan Suara NTB, beberapa lantai rumah warga masih diselimuti lumpur akibat banjir beberapa hari lalu. Sementara, puing-puing sampah yang tergerus deras air masih teronggok di mana-mana. Sedangkan, sekitar 30-an warga yang rumahnya rusak dan kotor masih mengungsi di musala setempat.
Yeni, seorang warga lain yang juga mengungsi di musala terlihat sibuk pulang pergi memantau kondisi rumahnya. Di sisi lain, ia harus mengurus anaknya yang masih balita.
“Kalau kita sih pakaian yang layak dipakai. Sama untuk balita, susu dan pampers. Tapi kita mau beli juga tidak ada. Uang juga hanyut,” tuturnya sembari menggendong anaknya.
Akibat banjir kemarin, barang-barang berharga miliknya dan warga lain ikut terbawa derasnya sungai. Sementara barang-barang yang sempat diselamatkan, tapi akhirnya rusak juga. “Kompor semua tidak ada. Baju cuma berapa biji yang tersisa. Ini kasur sudah tidak bisa dipakai. Ini kulkas rusak, mesin cuci. Ini tidak bisa dipakai peralatan dapurnya, piring semua sudah habis semua. kalau dihitung-hitung puluhan juta,” pungkasnya.
Berbeda dengan warga yang lain, Ari justru berharap pemerintah segera membereskan sisa reruntuhan jembatan yang rusak diterjang banjir. Sebab, ia khawatir, puing-puing jembatan yang masih berada di tengah sungai itu menyebabkan aliran air kembali tersendat dan menyebabkan bencana kembali terulang. “Pasti. 90 persen naik airnya itu kalau hujan lagi. Soalnya betonnya itu belum diangkat itu,” kata dia.
Ia menyebut, warga tidak bisa untuk mengangkat sisa-sisa beton jembatan tersebut. Hanya alat berat saja yang bisa. Tapi persoalan lain, alat berat tidak memungkinkan masuk, sebab jalan di pemukiman tersebut terbilang sempit. “Belum ada solusi. Soalnya ini belum ada yang datang ini dari Gubernuran dari Wali Kota belum ada yang datang,” pungkasnya. (sib).


