spot_img
Jumat, Februari 20, 2026
spot_img
BerandaEKONOMITarget Pertumbuhan Ekonomi RI Masih Cukup Tinggi

Target Pertumbuhan Ekonomi RI Masih Cukup Tinggi

Jakarta (Suara NTB) – Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup tinggi jika melihat rata-rata proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan beberapa negara yang cenderung turun pada tahun ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dan Bank Indonesia di Jakarta, 3 Juli 2025, mengumumkan proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester II 2025 yang asumsi semula 5,2 persen menjadi dalam rentang 4,7 persen sampai dengan 5 persen.

“Kalau soal outlook pertumbuhan ekonomi, kita harus meletakkan negara kita dalam situasi internasional. Jadi, kondisi globalnya memang melambat. Bahkan, mungkin prediksinya rata-rata pertumbuhan global hanya 2,3 persen,” kata Kepala PCO Hasan Nasbi menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers di Kantor PCO, Jakarta, Selasa, 8 Juli 2025.

Hasan melanjutkan jika rata-rata pertumbuhan global diprediksi turun, tentu Indonesia pun menyesuaikan.

“Tetapi, dengan penyesuaian-penyesuaian ini pun sebenarnya kita masih dalam suasana yang sangat optimis, karena jauh di atas prediksi pertumbuhan global yang hanya sekitar 2,3 persen. Kita masih jauh di atas itu,” kata Hasan.

Oleh karena itu, menurut dia, target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan sebesar 4,7 persen sampai dengan 5 persen harus disambut positif.

“Jadi, ini bukan bagian dari pesimisme. Justru kita masih sangat optimis dengan melihat situasi secara keseluruhan di dunia. Negara-negara lain mungkin hanya antara 0 sampai 1 persen saja prediksi pertumbuhannya, sementara kita masih di angka, yang masih cukup tinggi,” kata Hasan Nasbi.

Dalam kesempatan yang sama, Hasan juga optimistis perekonomian semakin membaik dalam waktu 6 bulan ke depan, terutama saat mulai ada relaksasi belanja pemerintah, dan program-program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG), semakin luas jangkauannya.

“Nanti juga 6 bulan ke depan kita akan bisa menyaksikan bahwa, kan, sudah mulai ada relaksasi ya. Belanja pemerintah, belanja modal, belanja barang, belanja bantuan sosial. Itu juga mungkin akan menstimulus perekonomian kita dalam 6 bulan ke depan,” kata Hasan.

Fondasi Ekonomi

Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir meyakini fondasi ekonomi Indonesia akan baik dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang tidak menentu sejauh pemerintah menyiapkan berbagai strategi keuangan dalam menyikapinya.

“Jadi memang insyaallah pondasi ekonomi negara kita baik, cuma memang harus betul-betul diatur ke depan bagaimana strategi-strategi keuangan menghadapi ekonomi global yang semakin tidak menentu ini,” kata Adies usai menghadiri rapat paripurna di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa.

Hal itu disampaikannya merespons keputusan tarif impor 32 persen oleh Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia yang tetap diberlakukan per 1 Agustus mendatang.

Dia memandang Indonesia pernah berhasil melewati situasi ekonomi yang sulit ketika pandemi COVID-19 melanda beberapa waktu lalu.

“Seperti yang kita ketahui pengalaman-pengalaman yang lalu menghadapi COVID-19 yang baru lalu, yang sangat berat, negara kita bisa melalui dengan baik,” ucapnya.

Dia pun meminta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait lainnya melakukan berbagai upaya untuk menyikapi kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden AS Donald Trump itu, termasuk upaya diplomasi di dalamnya.

“Hari ini sudah ditetapkan untuk Indonesia 32 persen, ya mudah-mudahan kita dapat melalui dengan baik dan kita harapkan juga ada negosiasi daripada Indonesia dan Amerika Serikat,” katanya.

Dia menyebut untuk menghadapi tantangan ekonomi tersebut, pemerintah telah mengutus Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk bertolak ke AS pada hari ini guna mengupayakan negosiasi tarif resiprokal.

“Jadi memang ini satu tantangan bagi negara kita dan kita tahu bahwa setelah KTT BRICS, Pak Airlangga, Menko perekonomian, juga diutus ke Amerika mungkin untuk negosiasi kembali,” kata dia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Presiden AS Donald Trump memutuskan tetap mengenakan tarif impor 32 persen kepada Indonesia, atau tidak berubah dari nilai “tarif resiprokal” yang diumumkan sebelumnya pada April lalu, meski proses negosiasi dengan pihak Indonesia terus berlangsung intensif.

“Mulai 1 Agustus 2025, kami akan mengenakan tarif kepada Indonesia hanya sebesar 32 persen untuk semua produk Indonesia yang dikirimkan ke Amerika Serikat, terpisah dari Tarif Sektoral lain,” kata Trump dalam surat berkop Gedung Putih tertanggal 7 Juli yang ditujukan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.

Menurut Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi, surat pemberitahuan dari Presiden Trump tersebut mengisyaratkan peluang negosiasi masih bisa berjalan dengan tarif impor yang diberlakukan lebih rendah dari 32 persen.

“Harusnya itu (negosiasi) berakhir besok. Tapi kemudian dalam keterangan terbaru yang diberikan oleh Presiden Trump, (tarif) itu kan dimulainya 1 Agustus. Itu artinya dia mundurkan waktu untuk memberikan ruang untuk perpanjangan diskusi dan negosiasi,” kata Hasan saat memberikan keterangan pers di Kantor PCO Jakarta, Selasa, 8 Juli 2025. (ant)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO