spot_img
Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEIqbal-Dinda, Banjir dan "Kambing Hitam"

Iqbal-Dinda, Banjir dan “Kambing Hitam”

Catatan: Agus Talino

PADA banjir yang “menghantam” Kota Mataram, beberapa waktu lalu. Rumah terendam air di beberapa tempat. Ada mobil yang terseret arus. Ada korban yang meninggal. Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal turun ke lokasi banjir. Menemui warga terdampak. Larut pada kesedihan korban yang mendalam.

Kehadiran pemimpin pada musibah. Berdialog. Berbasah-basah bersama korban dan warga. Bersama merasakan dingin malam. Pakaiannnya kuyup. Maknanya sangat dalam. Bukan sebatas soal bantuan. Tetapi soal perhatian. Soal simpati. Soal empati. Pemimpin hadir dan tak membiarkan korban sendiri menghadapi masalah. Secara psikologis tentu sangat membantu dan menguatkan korban. Ada pemimpin di sampingnya. Ada pemimpin yang menjaga dan melindunginya. Ada pemimpin yang siap hadir setiap saat ketika warga membutuhkannya.

Pemimpin dekat dengan warga. Ruang komunikasi bisa menjadi lebih mudah dan terbuka. Pemimpin menjadi bisa memahami dan merasakan masalah yang dihadapi warga. Pemimpin bisa menghindari bertindak keliru. Pemimpin bisa mengambil keputusan yang tepat berkaitan dengan kebutuhan warga.

Komunikasi langsung pemimpin dengan warga. Bertatap muka dengan warga. Memamg bukan pekerjaan sederhana. Memerlukan energi yang tidak kecil. Memerlukan waktu yang tidak sedikit. Memerlukan langkah yang panjang. Apalagi Pak Iqbal sebagai Gubernur NTB. Daerahnya luas. Terdiri dari dua pulau. Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Tak semua tempat gampang dijangkau. Tetapi manfaatnya besar. Pemimpin bisa terhindar dari bias informasi. Dan bias informasi bisa berakibat tidak baik. Pemimpin bisa keliru berkesimpulan.

Jalan yang dipilih Pak Iqbal sebagai pemimpin adalah jalan yang seharusnya. Dekat dengan warga. Pemimpin bisa mengonfirmasi dan menguji informasi yang diperoleh dari orang yang ada di sekitarnya. Pemimpin bisa mengecek laporan pejabat di lapangan. Pemimpin bisa melihat kesesuaian informasi yang didapat melalui “mulut” perantara. Informasi yang tak langsung diterima dari sumber utamanya.

Menguji informasi sangat perlu. Pemimpin perlu cermat menerima informasi. Khawatirnya, informasi yang datang melalui perantara, bisa saja ada subjektivitasnya. Ada “muatan”-nya. Akibatnya, informasinya menjadi tidak akurat. Bahkan bisa menjadi sarat kepentingan. Apalagi kalau informasinya datang dari orang yang sesungguhnya tak paham masalah. Tak kuasai persoalan. Tetapi terlanjur dipercaya dan persepsikan sebagai “ahli” oleh pemimpin. Di sini pemimpin tak boleh “terkecoh”.

Cerita orang yang berulang-ulang mengatakan, dirinya tulus membantu dan tidak punya kepentingan. Tangannya tak mau “kotor” bersentuhan dengan proyek. Perlu juga diuji kebenaranya. Apalagi untuk mereka yang kerap menghadirkan “kambing hitam” pada cerita dan argumentasinya. Pemimpin tidak bisa bekerja efektif jika basis data dan informasinya untuk mengambil keputusan tidak jelas, tidak kuat dan tidak akurat.

Memastikan kebenaran data dan informasi itu sangat penting. Apalagi kalau informasinya datang dari orang yang sesungguhnya tidak punya instrumen dan alat yang konkret untuk membantu. Hanya datang dengan cerita dan “kecap-kecap”. Tak punya jaringan dan relasi yang kuat. Tak punya kemampuan untuk memengaruhi dan menggerakkan orang lain. Tak banyak kawannya yang bisa membantu dengan instrumen dan alat yang dimilikinya. Kalau pun punya instrumen. Mungkin hanya akun media sosial yang pengaruhnya tidak besar. Modalnya hanya “cuap-cuap”.

Pemimpin perlu berpikir jernih dan dalam. Tidak boleh gampang terpengaruh dengan cerita. Apalagi kalau ada orang yang suka membangun cerita “provokatif”. Membangun “jarak” dan “memisahkan” pemimpin dengan kekuatan-kekuatan yang sesungguhnya memiliki potensi untuk membantu. Mengembangkan “omong kosong”. Menjelekkan orang lain. Akibatnya, pemimpin kehilangan kesempatan membangun kekuatan besar dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Pemimpin bijak. Jiwanya besar. Tidak lari dari tanggung jawab. Tak suka cari alasan. Pantang melemparkan kesalahan pada orang lain. Kalau ada masalah dihadapi. Bukan menghindar. Pemimpin bijak tak gampang digiring untuk membenci. Terbuka menerima saran dan kritik. Tak gampang “menjustifikasi”. Bahwa semua pengkritik tidak baik dan motifnya buruk. Apalagi menilai, pengkritik sebagai orang yang biasa melakukan yang dikritik ketika mempunyai kesempatan. Ketika punya “kuasa”. Ini cara berpikir yang bisa merugikan pemimpin dan banyak orang.

Untuk menguji kritik. Sederhana saja. Pemimpin punya sumber daya yang cukup. Masalah yang dikritik benar atau tidak. Basis datanya akurat atau tidak. Pemimpin bisa menjawab dengan menghadirkan data dan fakta. Yang paling penting, kita tak boleh menolak kebenaran. Kalau kita menutup “pintu” terhadap pikiran-pikiran orang lain. Pikiran kita bisa menjadi miskin. Padahal untuk menjadi pemimpin. Pikirannya harus kaya. Apalagi perubahan dan kemajuan dunia bergeraknya sangat cepat.

Banjir Mataram adalah pelajaran. Kita semua perlu belajar. Kita identifikasi akar masalahnya. Kita cari jalan keluarnya. Kita selesaikan dan tuntaskan penyebabnya. Kita disiplin untuk tidak mengulangi kesalahan. Pemimpin tampil sebagai “komandan lapangan” menjaga daerah. Harapannya, peristiwa serupa tak akan pernah terulang lagi. Dampak banjir itu besar. Sangat besar. Apalagi mimpi Iqbal-Dinda tentang NTB itu besar. Sangat besar juga. Kita harus makmur. Kita harus mendunia. Semoga.***

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO