Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan tidak khawatir terhadap rencana kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang akan memberlakukan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk-produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq Denny Evita Darmiyana. Menurutnya, ekspor komoditas non-tambang NTB ke AS selama ini sangat kecil, sehingga dampak langsung dari kebijakan tersebut relatif minim. “Kami tidak khawatir dengan tarif impor dari AS, khususnya untuk produk asal NTB,” tegas Baiq Denny.
Salah satu komoditas unggulan NTB yang diekspor ke AS adalah vanili organik. Denny menjelaskan bahwa para pembeli di Amerika bahkan bersedia menanggung tarif tambahan tersebut karena tingginya kebutuhan terhadap produk vanili organik yang jumlah produksinya terbatas secara global. “Pembeli di AS sangat membutuhkan vanili organik karena produksinya sangat terbatas di dunia. Jadi, mereka tetap akan membeli meski dikenai tarif tinggi,” tambahnya.
Meskipun potensi dampak dari kebijakan AS kecil, kinerja ekspor NTB menunjukkan tren positif. Selama periode Januari hingga Mei 2025, NTB mencatat total ekspor tambang dan non-tambang sebesar 2.814,71 ton, dengan nilai mencapai US$187.029,46.
Komoditas batu apung menjadi penyumbang utama, mencakup 75,11 persen dari total nilai ekspor NTB yang dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Berdasarkan data Dinas Perdagangan NTB dan laporan PT Amman Mineral Nusa Tenggara, ekspor batu apung ke Tiongkok mencapai 2.813,83 ton dengan nilai US$140.479,46.
Komoditas lain seperti mete, kemiri, dan ikan tuna sirip kuning (yellowfin tuna) juga turut diekspor, meskipun kontribusi nilainya masih kecil.
Aktivitas ekspor melalui Bandara Internasional Lombok terbilang minim, kecuali satu pengiriman kecil mutiara ke Hongkong senilai US$12.102,87. Sementara itu, Bandara Ngurah Rai – Denpasar mencatat ekspor mutiara NTB ke Tiongkok dan AS dengan volume 0,05 ton dan nilai US$18.425, atau 9,85 persen dari total ekspor.
Dari Bandara Soekarno-Hatta, ekspor anoda ke India memberikan nilai signifikan sebesar US$28.125 dari volume 0,83 ton. Komoditas mop shell (kerang) juga diekspor ke Australia, meskipun nilainya tidak tercatat.
Pelabuhan Benete – Sumbawa juga mencatat adanya ekspor katoda tembaga ke Tiongkok, meski hingga Mei 2025 volumenya belum terealisasi.
Secara keseluruhan, ekspor NTB masih didominasi oleh komoditas sektor pertambangan rakyat dan perikanan bernilai tinggi, seperti batu apung dan mutiara. Kedua komoditas ini menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai andalan ekspor NTB ke depan. (bul)



