spot_img
Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK UTARA1.203 Kosakata Bahasa Sasak, Samawa, Mbojo Masuk Dalam KBBI

1.203 Kosakata Bahasa Sasak, Samawa, Mbojo Masuk Dalam KBBI

Tanjung (Suara NTB) – Sebanyak 1.203 kosakata bahasa daerah (Sasak, Samawa, Mbojo) sudah masuk dan diakui dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Seiring penerimaan bahasa daerah tersebut secara nasional, Balai Bahasa Provinsi NTB mendorong masyarakat untuk semakin massif menyelipkan berbagai kosakata pada banyak momen agar terdengar familiar di telinga publik.

Sejumlah bahasa daerah yang sudah masuk dalam KBBI antara lain; bahasa Sasak (abih, adah, alit, ampar, Ares, ayam Taliwang, – termasuk bahasa Sasak Dayan Gunung seperti bale mengina, dan aman jangan).

Untuk bahasa daerah Samawa, beberapa contoh yang masuk dalam KBBI antara lain; ai jeruk, Aris tanewang, awi tompo, ai mata yam ai ka tu belang, badede, badempak.

Sementara kosakata bahasa Mbojo (Bima dan Dompu) yang diakui KBBI contohnya; ampa mangga, bekoco, bingka dolu, bumi endede masa, caka, congge, dau dan lainnya.

“Data sampai dengan Juli 2025, jumlah kosakata bahasa Daerah NTB yang masuk dalam KBBI sebanyak 1.203. Kita akan terus mendorong bagaimana kosakata daerah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia,” ungkap Kepala Balai Bahasa NTB, Dwi Pratiwi, di Gangga, Kamis, 10 Juli 2025

Balai Bahasa menurut dia, terus menggelar lokakarya kosakata bahasa daerah NTB untuk menyerap berbagai kata dari 3 etnis di NTB agar dapat diakui KBBI. Sebab, salah satu ciri bahasa daerah menjadi bagian dari Bahasa Nasional adalah kosakata tersebut tercantum dalam KBBI.

Sejak 2020 lalu, pihaknya telah menghimpun hampir 500 kosakata bahasa Sasak, Samawa dan Mbojo setiap tahunnya, untuk kemudian diajukan ke KBBI.

“Mestinya masyarakat berupaya bagaimana kosakata daerah terlibat dengan intensitas tinggi ditulis dan disampaikan melalui pidato atau diselipkan dalam kegiatan resmi. Semakin sering diucapkan, akan semakin familiar, dan peluang masuk KBBI makin tinggi,” sambungnya.

Balai Bahasa NTB juga mendorong agar pemerintah daerah di NTB membuka sebuah Forum yang dapat memperjuangkan keberadaan bahasa daerah – Sasambo, untuk diakui KBBI.

Menurut Dwi, fanatisme bahasa daerah oleh suku-suku di NTB cukup tinggi. Bahasa daerah tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari, penggunanya juga menginginkan adanya entitas pengelompokan. Seperti yang berlaku pada bahasa Mbojo. Balai Bahasa menerima usulan agar lembaga UPT Kementerian ini membedakan kosakata antara Mbojo Bima dan Mbojo Dompu.

“Balai Bahasa juga diminta masyarakat budayawan untuk memfasilitasi komunikasi antara Dompu dan Bima terkait bahasa Mbojo. Mereka menginginkan adanya (entitas) bahasa sendiri.  Tentu kami di Balai Bahasa tidak bisa putuskan, karena prosesnya panjang. Butuh pengetahuan mendalam terkait historis,” tandasnya. (ari)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO