spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaEKONOMIBBWS NT I Ungkap Penyebab Banjir Mataram dan Usulkan Solusi Jangka Panjang

BBWS NT I Ungkap Penyebab Banjir Mataram dan Usulkan Solusi Jangka Panjang

Mataram (Suara NTB) – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I memaparkan hasil analisis terkait banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Mataram pada Minggu, 6 Juli 2025. Banjir tersebut terjadi akibat hujan ekstrem dengan intensitas mencapai 182,4 mm yang tercatat di pos hujan Automatic Rainfall Recorder (ARR) Bertais.

Kepala Bidang Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air BBWS NT I, Lukman Nurzaman, S.T., M.Tech., menjelaskan bahwa intensitas hujan tinggi memicu luapan Sungai Ancar yang berdampak pada 16 kelurahan di Kota Mataram, termasuk Bertais, Selagalas, Abian Tubuh, Mandalika, Dasan Cermen, Turida, Kekalik Jaya, Karang Pule, dan lainnya.

“Laporan analisa ini ditinjau dari aspek hidrologi dan hidrolika untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai kejadian banjir,” ungkap Lukman dalam keterangannya di Mataram, Kamis, 10 Juli 2025.

Berdasarkan hasil pantauan Tim Reaksi Cepat BBWS NT I, terdapat sejumlah faktor yang memperparah kondisi banjir, antara lain: Penyempitan sungai akibat permukiman padat dan pembangunan liar di sempadan sungai, bahkan di dalam badan sungai. Pendangkalan alur sungai serta sistem drainase yang tidak efektif karena tersumbat sampah.

Titik-titik penyempitan (bottleneck) pada aliran sungai, terutama di lokasi jembatan dan perumahan. Beberapa lokasi terdampak parah antara lain:

Perumahan Riverside, pagar setinggi 2,5 meter roboh akibat luapan dari sisi kiri aliran sungai. Lingkungan Pengempel Indah, pondasi bangunan berdiri di atas perkuatan tebing yang mengurangi kapasitas sungai.

SMP 22 Mataram, pagar sekolah setinggi 2 meter roboh akibat penyempitan sungai. BTN Sweta, banjir disebabkan oleh luapan drainase bekas saluran irigasi. Simpang Sungai Ancar–Jalan Majapahit, aliran air meluap karena dua jembatan berdampingan menciptakan penyempitan. Jembatan Kekalik, disebut sebagai titik penyempitan terparah akibat berbagai hambatan (obstacle). BBWS memperkirakan debit puncak saat kejadian mencapai 91,54 m³/detik.

Sebagai respons cepat, BBWS NT I telah menerjunkan Tim Reaksi Cepat untuk mengidentifikasi lokasi terdampak dan melakukan penanganan awal, seperti: Pengerahan 1 unit mobile pump di Perumahan Jalan Swakarsa, Kekalik. Penggunaan 1 unit excavator untuk membersihkan sampah di jembatan dekat pintu masuk Universitas Mataram. Pembersihan saluran drainase bersama instansi terkait.

Untuk jangka panjang, Lukman menekankan perlunya: Reboisasi dan pengendalian erosi di wilayah hulu sungai. Penataan dan penertiban bantaran sungai, termasuk pembongkaran bangunan di atas peil banjir dan yang tidak sesuai kaidah teknis. Normalisasi dan pelebaran sungai, serta pembangunan jalan inspeksi untuk memudahkan perawatan sungai menggunakan alat berat. Edukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. “Penertiban bangunan di bantaran sungai adalah langkah penting yang memerlukan peran dan kewenangan Pemerintah Daerah,” ujar Lukman. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO