Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian Gunung Rinjani. Revisi ini menyusul kematian pendaki asal Brasil, Juliana Marins yang terjatuh di Gunung Rinjani pada Juni lalu.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, H. Ahmad Nur Aulia, menjelaskan revisi SOP ini sejalan dengan visi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, untuk menjadikan Rinjani sebagai destinasi pendakian yang berkualitas dan aman.
“Kita bicara konsep pariwisata berkualitas di Rinjani. Tujuannya, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para wisatawan yang akan mendaki Rinjani,” ujarnya.
Sebelum revisi dilakukan, SOP yang berlaku saat ini akan diaudit terlebih dahulu untuk mengetahui kelemahan dan kebutuhan perbaikan. Hal-hal yang akan diperbarui mencakup prosedur evakuasi, standarisasi fasilitas, pemenuhan sarana dan prasarana, serta pembentukan posko terpadu.
Mitigasi bencana juga menjadi bagian penting dari SOP baru. Rencana ini akan dirumuskan oleh Kelompok Kerja (Pokja) yang akan dibentuk dalam waktu satu bulan ke depan.
“Kebetulan dengan kejadian ini banyak pemerhati banyak yang ingin berkontribusi. Maka perlu ada up skill kompetensi evakuasi. Perlu ada sertifikasi untuk tim rescue itulah yang akan kita danai juga,” katanya.
Ia menambahkan, SOP baru juga akan memuat aspek pelestarian sosial budaya masyarakat sekitar Rinjani, serta pembentukan tim rescue khusus yang dilatih secara profesional dan bersertifikat.
“Banyak pihak yang kini ingin berkontribusi. Maka kita akan tingkatkan kompetensi evakuasi dan siapkan pendanaan untuk sertifikasi tim rescue,” ungkapnya.
Pokja yang akan merumuskan SOP baru akan melibatkan Balai TNGR, Pemda, TNI/Polri, Basarnas, Dinas Kesehatan, guide, porter, relawan, dan perwakilan masyarakat lingkar Rinjani. Untuk para pemandu pendakian (guide), juga akan diberikan pelatihan medis dasar agar mampu memberikan pertolongan pertama saat darurat.
“Jadi misalnya ada kejadian minimal bisa melakukan penanganan awal. Harapan kita dalam satu bulan ini mulai melakukan perbaikan SOP ini sambil jalan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Balai TNGR, Yarman, menyatakan bahwa perbaikan SOP akan dilakukan secara kolaboratif bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku wisata dan masyarakat lokal.
“Ini kita bicara tata kelola Rinjani usai kasus Juliana kemarin. Kami sampaikan ada beberapa evaluasi. Ada evaluasi SDM kami sendiri dan pelaku wisata, sarana termasuk SOP akan kita revisi bersama,” ujarnya.
Ia memastikan, Revisi SOP pendakian akan dibahas oleh kelompok kerja (Pokja). Pokja yang dibentuk berasal dari berbagai kalangan termasuk di dalamnya TNGR, Pemprov NTB dan stakeholder lainnya.
“Nanti Pokja sendiri yang membicarakan terkait peran masing-masing. Jadi poin dalam SOP ini porter, TO, guide apa peranannya. Ya mudahan bisa segera terealisasikan. Nanti akan ada pertemuan lanjutan,” pungkasnya. (era)
Â


