Mataram (Suara NTB) – Sekolah Rakyat (SR) SMP 18 Lombok Barat, Sentra Paramita akan memulai proses pembelajaran pada, Senin, 14 Juli 2025. Namun, sebelum memulai pembelajaran, para siswa akan melakukan tes Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) dan Drive, Network, Action (DNA) Talent. Tes-tes tersebut dilakukan untuk memastikan para siswa dalam keadaan sehat dan siap untuk belajar.
Demikian disampaikan Kepala Sekolah Rakyat Sentra Paramita, Satria Irwandi saat dihubungi Suara NTB, Kamis, 10 Juli 2025. Ia mengatakan, untuk memastikan tes PKG itu berjalan lancar, pihaknya akan mengundang tim kesehatan dari Puskesmas Labuapi untuk mengecek kesehatan para siswa.
“Tes PKG untuk memastikan kondisi jika ada anak sakit, maka akan diberikan perawatan. Hingga mengetahui bagaimana kondisi fisik anak kita. Jika dalam kondisi yang tidak fit maka akan diberikan perawatan,” katanya.
Selain tes PKG, SR Sentra Paramita juga akan melaksanakan tes DNA Talent kepada para siswa. Hal itu bertujuan mengklasifikasikan kemampuan, sehingga para guru lebih mudah untuk memberikan treatment yang tepat kepada para siswa.
Satria menyebut, nantinya siswa-siswi tersebut akan diberikan kusioner oleh para guru dan akan terjawab langsung oleh Artificial Intellegence (AI). Dari hasil tersebut nantinya, para guru akan mengklasifikasikan kemampuan siswa menjadi dua jenis, yakni bottom talent dan up talent. Up talent adalah kemampuan tinggi yang dimiliki siswa. Sedangkan bottom talent sebaliknya.
“Bottom talent itu yang akan mengurangi top talent mereka. Misalnya mungkin rasa keingintahuannya yang kurang bagaimana kita tingkatkan. agar nantinya kita bisa mengarahkan anak-anak itu hobinya di mana kesukaannya apa,” jelasnya.
Sementara itu, terkait kesiapan, Satria menyampaikan, secara sarana prasarana, SR Sentra Paramita sudah siap untuk memulai pembelajaran. Ia menyebut, fasilitas seperti ruang kelas beserta meja dan kursi juga telah tertata rapi di dalamnya.
Begitu juga dengan tenaga pendidiknya. Satria mengonfirmasi, SR Sentra Paramita memiliki 13 tenaga pendidik dengan rincian, 11 guru mata pelajaran dan dua guru pendidikan agama. Guru-guru tersebut juga berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia. Namun, tetap kebanyakan dari Lombok.
“Ada dari Lombok Barat ada dari Mataram, ada yang asalnya dari Jawa tapi tinggalnya di Mataram, ada yang dari Bima, ada dari Lombok Tengah, juga ada dari Lombok Timur. Ada yang paling jauh itu dari Kupang NTT,” tutupnya. (sib)


