Praya (Suara NTB) – Kapolres Lombok Tengah (Loteng) AKBP Eko Yusmiarto, SIK., menegaskan pihaknya siap mengawal proses land clearing (pengosongan lahan) di kawasan Pantai Tanjung A’an Desa Sengkol Kecamatan Pujut yang direncanakan digelar pada Selasa, 15 Juli 2025. Selama proses pengosongan lahan warga pun diingatkan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan melawan hukum. Supaya proses pengosongan lahan bisa berjalan aman.
Bagi warga yang memiliki bangunan atau lapak di area yang akan dikosongkan diharapkan bisa membongkar secara mandiri tempat jualannya dari pada nanti harus dibongkar paksa oleh pihak ITDC. “Harapannya kami warga bisa membongkar secara mandiri,” terang Kapolres Loteng AKP Eko Yusmiarto, SIK., saat ditemui di kawasan Pantai Tanjung A’an akhir pekan kemarin.
Terlebih warga sudah diperingati beberapa kali untuk membongkar sendiri tempat berjualannya. Bahkan, sampai batas waktu yang diberikan sudah sekalipun warga masih juga belum mau membongkar, sehingga jangan salahkan kalau sampai dilakukan pembongkaran paksa.
“Pihak ITDC sudah melakukan sosialisasi sampai memberikan peringatan hingga tiga kali. Jadi sebaiknya warga melakukan pengosongan secara mandiri,” tegasnya kembali.
Disinggung jumlah personel pengamanan yang akan diterjunkan untuk mengawal pengosongan lahan, AKBP Eko mengaku belum ditentukan. Pihaknya masih akan menggelar pertemuan terakhir dengan stakeholder terkait pada Senin besok (hari ini, red) untuk menentukan pola pengamanan serta jumlah personel pengamanan yang akan diterjunkan, baik itu dari kepolisian, TNI, Pol PP dan unsur pengamanan dari ITDC.
Eko menegaskan kalau kehadiran personel pengamanan saat pengosongan lahan dilakukan hanya untuk mengamankan saja. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkan terjadi selama proses pengosongan lahan dilakukan oleh ITDC. Termasuk mengantisipasi potensi terjadinya aksi atau tindakan melawan hukum.
Personel yang diterjunkan juga tidak diperkenankan membawa senjata. Karena pihaknya lebih pada upaya persuasif. “Kita hanya mem-back up pengamanan. Untuk proses pengosongan lahan itu ITDC yang akan melakukannya,” ujarnya.
Sementara para pedagang sadar bahwa lahan tempatnya berjualan bukanlah lahan miliknya. Namun di satu sisi di lahan itulah satu-satunya tempat mereka mengais rejeki untuk bisa sekedar bertahan hidup dari beratnya tuntutan ekonomi keluarga.
Di tengah perasaan bimbang tersebut para pedagang muncul pengharapan kepada pemerintah daerah ataupun ITDC agar bisa memberikan solusi cepat bagi mereka. Untuk bisa melanjutkan usahanya. Agar mereka tidak kehilangan sumber ekonomi, jika kemudian harus terpaksa digusur dari tempatnya berusaha.
“Kalau kami digusur, terus kami mau pindah berjualan kemana lagi?,” celetuk Melum, salah seorang pedagang di Pantai Tanjung A’an, akhir pekan kemarin.
Melum paham dirinya bersama pedang lainnya tidak punya dasar untuk menolak pengosongan lahan, karena lahan tersebut bukan miliknya. Di mana mereka hanya sekedar numpang tenpat saja. Menurutnya berjualan di Pantai A’an merupakan satu-satunya pengharapannya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara dirinya harus membiayai sendiri empat orang anaknya setelah ditinggal suaminya beberapa tahun yang lalu.
Inaq Salim – sapaan akrab janda empat anak ini, mengaku sejak berjualan di Pantai Tanjung A’an dirinya setidaknya bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski hasilnya tidak menentu. “Kadang dapat Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu per hari. Bisa lebih kalau wisatawan sedang ramai. Tapi setidaknya bisa untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Nah, sekarang mau digusur, kami mau berjualan dimana lagi?,” ujarnya.
Sebelumnya Bupati Loteng H. Lalu Pathul Bahri, S.IP.M.AP., mengatakan akan mengkomunikasikan apa yang menjadi keluhan warga atau pedagang. Tapi pihaknya meyakini kalau ITDC pastinya sudah membuat perencanaan yang matang. Dengan tetap memperhatikan kondisi warga atau pedagang di kawasan Pantai Tanjung A’an.
Bahkan, informasi dari pihak ITDC, nanti akan dibangun akses jalan masuk ke kawasan Pantai Tanjung A’an selebar 30 meter. Di pinggir-pinggirnya akan disiapkan tempat warga untuk berjualan. “ITDC pastinya sudah menginventaris semuanya. Termasuk aspirasi warga. Prinsipnya, kita ingin kawasan Pantai Tanjung A’an bisa semakin maju dan berkembang,” tandas Ketua DPD Partai Gerindra NTB ini. (kir)



