Mataram (Suara NTB) – Kejadian banjir yang melanda Kota Mataram pada Minggu, 6 Juli 2025 disebabkan banyak faktor. Dibutuhkan tindakan menyeluruh dari pemerintah dan pihak terkait lainnya untuk mencegah terjadinya banjir.
Dosen Prodi Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Dr. Syafril pada Minggu, 13 Juli 2025 menyampaikan, hujan yang deras dengan volume besar dan durasi lama bukan hanya faktor penyebab banjir di Mataram beberapa waktu lalu. Ada faktor lain yang turut memicu kejadian banjir tersebur.
Menurut Syafril, salah satu faktor penyebabnya karena waktu hujan yang deras bersamaan dengan waktu pasang laut, sehingga ketika air di Daerah Aliran Sungai (DAS) mengalir menuju hilir, maka akan berpapasan dengan laut yang sedang pasang. “Sehingga membuat DAS meluap ke permukaan daratan,” ujarnya.
Selain itu, penyebab lainnya, kondisi DAS yang dangkal disebabkan sedimentasi atau pendangkalan yang sudah sangat lama. Pendangkalan DAS dapat terjadi karena faktor sungai yang membawa material padat seperti kerikil, lumpur, pasir, pasir kasar, kerakal, bahkan batuan induk yang tersingkap karena terkikis oleh air. “Pendangkalan sungai dapat terjadi karena manusia yang membuang sampah secara tidak terkendali ke DAS,” kata Syafril.
Bangunan rumah toko dan pemukiman yang ada di atas bantaran sungai juga menjadi penyebab lainnya banjir di Mataram. Keberadaan bantaran sungai sangat penting bagi keseimbangan ekosistem sungai, termasuk menjaga stabilitas aliran dan pendangkalannya.
“Pertumbuhan pemukiman yang cukup banyak sehingga pori-pori tanah tempat air menyerap ke dalam lapisan tanah tertutup oleh beton, aspal, keramik, dan lain-lain. Akibatnya sungai terperangkap di jalan permukiman,” jelas Syafril.
Tak kalah pentingnya, kata Syafril, faktor penebangan liar atau illegal logging di area hulu sungai menjadi salah satu faktor penyebab banjir. Kejadian illegal logging yang dilakukan di kawasan hutan dapat menyebabkan air hujan tidak banyak yang terserap ke dalam tanah. Sebaliknya justru air sungai banyak mengalir di atas permukaan tanah atau run off.
Menurut Syafril, perlu ada solusi menyeluruh untuk mengatasi dan mencegah banjir terulang kembali. Ia menyebutkan, solusinya antara lain melakukan perubahan perilaku masyarakat baik di hilir, tengah, dan hulu sungai. Pemerintah juga perlu menangkap dan mengadili dengan tegas para pelaku illegal logging.
Selain itu, perlu dilakukan normalisasi daerah aliran sungai, serta menanam kembali dan memelihara area hutan.
Pemerintah juga perlu merelokasi rumah-rumah yang ada di area bantaran sungai. “Termasuk sosialisasi dan susun kebijakan tata kelola sampah kota yang ramah lingkungan, dan buat sumur resapan yang banyak,” saran Syafril. (ron)


