Selong (Suara NTB) – Sentra Industri porang yang dibangun di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) selama ini kekurangan bahan baku. Kapasitas pabrik pengolahan porang yang baru dibangun itu 50-80 ton per hari. Petani di Lombok disarankan untuk ikut tanam porang sejak sekarang. Porang potensial untuk dikembangkan.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) Prof. Dr. Suwardji, menjawab Suara NTB belum lama ini mengatakan porang ini sangat cocok ditanam di lahan-lahan warga yang ada di Pulau Lombok.
Hasil panen porang dari Lombok selama ini banyak dibawa ke pulau Jawa. Kabarnya, terakhir ada 180 truk porang Lombok dibawa ke Jawa. Tata niaga porang ini perlu diperbaiki. Setelah beroperasinya sentra porang Lotim, maka diharapkan semua produksi porang Lombok ini bisa dibeli oleh pengelola pabrik. “Kalau dijual ke sentra porang Lotim ini kan tidak perlu ongkir seperti ke Jawa,” ucapnya.
Beroperasinya pabrik poran di Lotim ini diharapkan bisa berpihak kepada petani. Harga sekarang Rp10.500 per kilogram. Harga ini cukup menggiurkan. Menanam porang pun katanya sangatlah mudah. Bisa dikembangkan di lahan sawah tegakan. Lahan pinggiran hutan dan lain secara tumpang sari.
Porang katanya merupakan tanaman tahunan. Maksimal dua tahun baru bisa panen. “Jika bibit dari umbi bisa satu tahun dan bibit dari spora bisa dua tahun,” ucapnya.
Melihat potensi bisnis porang sekarang ini, pengembangan bibit ini juga bisa menjadi peluang bisnis baru di bidang pertanian.
Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan bibit, mitra-mitra petani yang ada di Jawa siap menyediakan bibit. Harga bibit sangat tergantung juga pada jenisnya. Kalau panennya lebih cepat bisa lebih mahal bibitnya. Sepetri bibit yang dalam bentuk umbi kecil ini ada yang 7 ribu. Ada juga dalam bentuk batang siap tanam. Harganya juga cukup menarik. “Kalau ada yang mau kembangkan pembibitan ini juga jadi potensi yang menarik,” imbuhnya.
Ditambahkan, karena tanaman porang bisa ditanam secara tumpang sari, maka budidayanya tidak perlu dipupuk. Atau cukup pakai pupuk kandang. Cukup dibiarkan saja akan tumbuh dengan baik. Hasil panennya pun sangat melimpah. “Satu bibit yang dipanen itu bisa 40 kg, jadi sangat cukup besar produktivitasnya,” imbuhnya.
Dalam pengembangan budidaya tanaman porang ini, disarankan ada mekanisme bantuan permodalan yang bisa dikeluarkan pihak perbankan. Cara pembayarannya nanti dilakukan selesai panen. “Harus ada skema seperti itu agar bisa lebih cepat,” demikian sarannya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian Lotim, Muhammad Azlan menyebutkan masih kendala bahan baku untuk diolah di sentra industri porang. Pengelola sudah mencari porang sampai ke Nusa Tenggara Timur. Sebelumnya Bupati Lotim, Haerul Warisin juga sudah menyurati semua daerah se NTB meminta porang. Kapasitas pabrik 80 ton perhari ini cukup besar dan menanti bahan baku. (rus)

