spot_img
Sabtu, Januari 31, 2026
spot_img
BerandaPOLHUKAMPOLITIKHadi Dorong Penguatan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanganan Bencana

Hadi Dorong Penguatan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanganan Bencana

Mataram (Suara NTB) – Anggota DPR RI dari Dapil NTB 2 Pulau Lombok, H. Abdul Hadi, mendorong penguatan sinergi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana alam di Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal ini disampaikannya dalam Workshop SAR bertema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Bidang Pencarian dan Pertolongan”, yang digelar di Mataram, Senin, 14 Juli 2025.

Menurut Hadi, Provinsi NTB termasuk daerah yang rawan bencana, dengan kejadian yang hampir berulang setiap tahun dan seringkali menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, penguatan mitigasi bencana dinilai penting untuk menekan dampak yang ditimbulkan. “NTB ini indah dan mendunia bukan hanya karena alam dan event-nya, tapi juga karena kerentanannya terhadap bencana yang bisa saja mendunia. Karena itu sangat penting upaya mitigasi bencana yang berkelanjutan,” ujarnya.

Hadi juga menyoroti banjir besar yang melanda Kota Mataram baru-baru ini, yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam 40 tahun terakhir. Ia menyebut, masyarakat mengalami trauma mendalam akibat kejadian tersebut, karena sebelumnya tidak membayangkan banjir sebesar itu dapat terjadi di Mataram. “Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi dapat dikelola dan diminimalkan dampaknya melalui kerja sama yang kuat antara instansi dan masyarakat,” tegas politisi PKS tersebut.

Ia menilai, kapasitas penanganan bencana di NTB masih perlu ditingkatkan. Salah satunya terlihat dari jumlah personel Basarnas NTB yang hanya sekitar 130 orang, yang dinilai belum memadai untuk menjangkau seluruh wilayah di 10 kabupaten/kota.

Karena itu, ia mendorong sinergi antara Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Damkar, dan elemen masyarakat untuk menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana. Peran masyarakat dinilai sangat penting karena mereka kerap menjadi pihak pertama yang memberi pertolongan. “Yang paling utama itu adalah sinergi dengan masyarakat. Mereka seringkali menjadi pihak pertama yang menolong, karena paling dekat dan paling memahami medan. Seperti pada kejadian pendaki jatuh di Rinjani baru-baru ini,” jelasnya.

Hadi juga menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi relawan, termasuk dalam hal keterampilan teknis, serta penguatan fisik dan mental. Ia bahkan mengusulkan adanya pelatihan khusus bagi masyarakat di kawasan rawan bencana seperti daerah pegunungan. “Fisik yang kuat dan keterampilan yang baik sangat penting dalam medan ekstrem. Muslim yang kuat lebih dicintai Allah, dan para relawan harus siap secara lahir dan batin,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Hadi juga mengungkapkan usulan peningkatan anggaran untuk Basarnas menjadi Rp2,3 triliun dalam RAPBN 2026. Ia menilai alokasi tersebut masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total APBN yang mencapai lebih dari Rp3.000 triliun. (ndi)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO