Giri Menang (Suara NTB) – SDN 1 Gerung Utara patut menjadi contoh sekolah pluralisme yang ramah terhadap semua siswa-siswi dari berbagai suku dan agama, tapi tetap hidup berdampingan secara harmonis. Penanaman karakter tenggang rasa dan saling menghormati antarsiswa dan guru diperkuat agar tidak terjadi perundungan atau bullying.
Hal itu ditanamkan mulai dari proses penerimaan Siswa baru atau Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru 2025-2026 ini. Di SDN 1 Gerung Utara, jumlah murid dibatasi dari kuota yang diberikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), lantaran keterbatasan jumlah ruang kelas.
Kepsek SDN 1 Gerung Utara, Sabariah menerangkan bahwa ada berapa kendala yang dihadapi pada SPMB kali ini. Dari data jumlah kuota yang diberikan Dikbud sebanyak 160 murid baru, tidak bisa diterima semuanya karena kendala tidak ada ruang kelas. Sehingga penerimaan siswa baru pun disesuaikan dengan jumlah siswa yang tamat yakni sebanyak tiga kelas.
“Sekarang kami terima tiga kelas, banyak yang kami tidak bisa terima (tolak),” kata dia, kemarin.
Tiga kelas itu sendiri sebanyak 113 murid, masing-masing 59 laki-laki dan 54 perempuan. Ada beberapa kriteria penerimaan murid baru, pertama dari domisili, afirmasi, prestasi dan mutasi. Kebanyakan murid yang diterima lanjut dia, dari mutasi, dimana orang tua murid berkerja di wilayah Gerung. Walaupun domisili di luar Gerung namun tetap diterima karena orang taunya kerja di wilayah Gerung.
Pihaknya juga sudah melaksanakan MPLS selama enam hari dan pembagian kelas. Pembagian kelas dikelompokkan dari usia. Anak yang sama usianya dijadikan satu kelas agar tidak ada kesan menjadi raja dan ratu di kelas, kerana yang usia lebih muda takut di kelas kepada anak yang usianya lebih tua. Selain itu dilihat dari minat bakat pada kegiatan MPLS. Sesuai tema MPLS kali ini “MPLS ramah”, anak-anak senang dan nyaman serta inklusif tidak ada membedakan satu sama lain.
Lebih-lebih murid di sekolah itu, bukan lagi mono namun heterogen. Artinya murid yang masuk di sekolah itu terdiri dari berbagai suku, agama yakni Islam, Hindu, dan Kristen. “Mereka membaur, pluralisme, tidak ada saling buli, ini lah kesempatan melalui MPLS mereka membaur, saling kenal,” imbuhnya.
Melalui momen perkenalan masing-masing anak ketika MPLS, yang mungkin sebelumnya merasa asing dengan nama-nama temannya. Di sini peran dari panitia MPLS menyampaikan latar belakang masing-masing anak. Termasuk tidak boleh saling merundung. Dengan begitu, mereka bisa saling kenal mengenal dan berdampingan satu sama lain.
Pihak sekolah pun memperlakukan dan merangkul mereka, tanpa membeda-bedakan. “Sehingga mereka pun membaur, dengan aman dan nyaman, menyenangkan,” ujarnya.
Selain itu, dari kegiatan Imtak pun mereka ditanamkan tenggang rasa dan menghormati keyakinan masing-masing. Di mana siswa pemeluk agama melaksanakan Imtaq di masing-masing tempat yang telah disiapkan sekolah. Untuk guru Mapel agama sendiri yang sudah ada, baru guru PAI dan Hindu. Guru agama yang lain belum ada, karena syaratnya jumlah siswa. Kalau jumlah siswanya sedikit belum bisa dipenuhi guru agama. (her)



