Mataram (Suara NTB) – Salah satu peserta Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) Nina Zalfa Khairunnisa menyoroti masalah yang akhir-akhir ini terjadi di NTB terkait dengan pernikahan dini atau yang sering juga disebut dengan “Merarik Kodeq”.
Nina sapaan akrab dosen kebidanan di salah satu perguruan tinggi di Kota Mataram ini berpendapat praktik ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial dan pendidikan perempuan, tetapi juga membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan ibu dan anak.
‘’Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya risiko stunting pada anak yang juga merupakan masalah kesehatan besar di NTB,’’ ujarnya dalam keterangan yang diterima Suara NTB, Senin, 14 Juli 2025.
Menurutnya, perempuan yang menikah dan hamil di usia remaja sering kali belum memiliki kondisi tubuh yang cukup matang untuk menghadapi proses kehamilan dan persalinan. Hal ini berpotensi menyebabkan komplikasi kehamilan, bayi lahir dengan berat badan rendah, serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain itu, ujarnya, pernikahan dini kerap membuat perempuan terputus dari pendidikan, sehingga berkurang pula akses mereka terhadap informasi tentang kesehatan dan gizi. Untuk itu, Nina juga menyampaikan menjaga kesehatan perempuan sejak dini menjadi kunci dalam memutus mata rantai stunting.
Pendidikan kesehatan reproduksi, akses terhadap layanan kesehatan yang ramah remaja, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya menikah pada usia ideal (minimal 21 tahun bagi perempuan) harus menjadi prioritas bersama. ‘’Ketika perempuan sehat, berpendidikan, dan siap secara fisik maupun mental untuk menjadi ibu, maka anak-anak yang dilahirkan pun akan tumbuh sehat dan optimal,’’ sarannya.
Berkaitan dengan itu, Nina juga berbagi pengalaman tentang semasa kuliahnya untuk tetap berprestasi dan tidak hanya datang untuk kuliah saja kemudian pulang. Prestasi yang Nina capai seperti pernah menjadi Best Presenter, Best Article di konferensi internasional pada tahun 2023 dan 2024. Tak hanya itu Nina juga pernah menjadi anggota debat bahasa Inggris dan menjuarai debat bahasa Inggris mengenai topik kesehatan di tingkat nasional.
Tak hanya unggul dari segi non-akademik, Nina juga memiliki prestasi akdemik semasa perkuliahan yang mengantarkannya menjadi salah satu mahasiswa berprestasi, bahkan menjadi salah satu wisudawan terbaik di kampusnya yaitu Poltekkes Kemenkes Mataram pada tahun 2021.
Berdasarkan pengalamannya itu, Nina saat ini yang bekerja di Inkes Yarsi Mataram sebagai dosen, juga ditunjuk menjadi mentor di bidang kemahasiswaan untuk membina mahasiswa yang mengikuti kompetisi nasional maupun internasional. Seperti pada bulan Mei 2025, Nina mengantarkan mahasiswanya untuk mengikuti International Youth Summit di Malaysia dan memperoleh medali perunggu.
Nina juga memberikan tips dan trik bagi para pemuda NTB agar tetap sehat dan berprestasi. Menurutnya, sebagai generasi muda, terutama perempuan penting sekali untuk membagi waktu istirahat dengan kegiatan yang dilakukan, kurangi begadang pada malam hari, hindari makanan yang tidak sehat dan berolahraga. ‘’Sehingga tubuh kita tetap sehat dan menjadi lebih produktif. Karna masa depan bangsa berada di tubuh pemuda yang sehat,” terangnya. (ham)


