spot_img
Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWA BARATSPMB SD Negeri di KSB Berjalan Kondusif dan Transparan

SPMB SD Negeri di KSB Berjalan Kondusif dan Transparan

Taliwang (Suara NTB) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa Barat mengeklaim pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SD Negeri Tahun Ajaran 2025/2026 telah berjalan kondusif dan transparan.

Setiap sekolah penyelenggara telah melaksanakannya sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku. “Kami sudah melakukan evaluasi terhadap hasil SPMB semua sekolah. Dan walau ditemukan ada beberapa masalah kecil, tapi secara keseluruhan sekolah sudah sangat patuh dengan aturan SPMB,” kata Kabid Pembinaan Sekolah Dasar, Dinas Dikbud KSB, Muhlisin Sahdi, Rabu, 16 Juli 2025.

Persoalan-persoalan yang muncul selama kegiatan SPMB, dingkungkapkan Muhlisin, secara teknis bukan datang dari sekolah. Melainkan dari pihak orang tua siswa. Ia mencontohkan, dengan temuannya di SD Negeri 1 Taliwang. Sebagai sekolah yang terlanjur dianggap favorit oleh masyarakat itu. Pada SPMB tahun ini para orang tua murid masih berebut memasukkan anaknya di sekolah tersebut. Bahkan yang mendaftar itu, secara domisili tidak masuk dalam area penerimaan SD Negeri 1 Taliwang.

“Itu masih terjadi kemarin. Tapi alhamdulillah pihak SD 1 Taliwang memegang aturan SPMB,” papar Muhlisin.

Bakal diserbunya SD Negeri 1 Taliwang oleh pendaftar itu, diungkap Muhlisin sudah diantisipasi sebelumnya. Pihaknya meminta kepada sekolah agar memprioritaskan anak-anak yang berdomisili di wilayah Kelurahan Kuang sebelum menerima siswa dari wilayah kelurahan sekitarnya.

“Karena SD 1 Taliwang ini punya empat Rombel (rombongan belajar). Sehingga ada siswa juga yang diterima dari luar Kelurahan Kuang,” ungkapnya.

Sementara itu ditanya mengenai pemerataan siswa pada tiap sekolah pada SPMB tahun ini? Muhlisin mengatakan, khusus pada tingkat SD, sekolah-sekolah yang ada telah mendapatkan peserta didik baru yang terhitung memadai. Jika pun ada sekolah yang dianggap kurang muridnya, itu disebabkan karena warga usia sekolah di wilayah sekolah bersangkutan terbatas.

“Dan perlu dicatat juga, bahwa untuk unit sekolah SD di kita (KSB) ini cukup banyak dibanding angka usia masuk sekolah setiap tahunnya,” pungkasnya. (bug)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO