spot_img
Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaHEADLINERitual Ngayu-Ayu, Tradisi Menjaga Keseimbangan dan Kemakmuran Ala Warga Sembalun

Ritual Ngayu-Ayu, Tradisi Menjaga Keseimbangan dan Kemakmuran Ala Warga Sembalun

SEMBALUN, Lombok Timur, kembali memeriahkan tradisi Ngayu-Ayu pada Kamis lalu. Tradisi ini tidak hanya sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga sebuah panduan hidup yang kaya akan doa dan harapan bagi masyarakatnya.

Acara dipusatkan di Bale Adat Sembalun Bumbung ini menjadi momentum penting untuk mempertahankan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal. Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, yang hadir dalam kegiatan tersebut menekankan peran krusial generasi muda dalam meneruskan dan menerapkan tradisi ini ke depan.

Ngayu-Ayu mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam serta isinya. Bupati H. Iron, menjelaskan bahwa keberlanjutan tradisi ini sejalan dengan kemakmuran masyarakat, dengan menegaskan bahwa tidak ada penduduk Sembalun yang hidup dalam kemiskinan. Tradisi ini, menurutnya, merupakan upaya nyata pelestarian budaya di utara Lombok Timur yang patut dijunjung tinggi, sembari mengingatkan bahwa kawasan lain di daerah ini juga kaya akan tradisi yang tak kalah menarik.

Sentimen syukur dan penghormatan terhadap alam menjadi inti dari Ngayu-Ayu. Gubernur NTB, Dr.H. Lalu Muhammad Iqbal, yang turut hadir bersama Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta Agathia Iqbal mengungkapkan bahwa Ngayu-Ayu adalah ungkapan rasa terima kasih atas kelimpahan dan kesejahteraan yang diberikan oleh Allah SWT. “Tradisi ini juga mencerminkan penghormatan kepada Gunung Rinjani dan nilai-nilai menjaga keseimbangan alam,” tambahnya, berharap agar tradisi unik ini terus lestari.

Perayaan Ngayu-Ayu tahun ini dimulai dengan prosesi sakral pengambilan air suci dari 13 mata air oleh pemangku adat Sembalun. Air suci ini kemudian dikumpulkan di Berugak Desa Sembalun Bumbung. Ritual berlanjut dengan pembacaan lontar oleh para Pujangga Sasak dan sesampang (pemberitahuan kepada leluhur dan penguasa alam), diikuti dengan penyembelihan kerbau.

Kepala kerbau yang dikuburkan sebagai pantek bumi, menjadi simbol penjaga kestabilan tanah Sembalun dan Lombok Timur.

Esok harinya, air suci dibawa dari Berugak Desa menuju lapangan upacara adat. Prosesi khidmat ini dihadiri oleh pemuka adat dan masyarakat, disertai dengan Tarian Tandang Mendet. Puncak acara (Mapakin) diisi dengan silaturahmi antara sesepuh adat dan tamu undangan dari berbagai daerah di Nusantara.

Mapakin ditandai dengan tiga prosesi lemparan ketupat, masing-masing melambangkan kesempurnaan salat lima waktu, kesempurnaan bulan (purnama), serta 25 Nabi dan Rasul.

Tradisi Ngayu-Ayu ditutup dengan Perang Pejer, perang simbolis menggunakan ketupat sebagai upaya penolak bala. Prosesi penutup lainnya adalah penumpahan air dari seluruh mata air di Kali Pusuk. Ritual ini melambangkan penyatuan elemen-elemen alam seperti bumi, air, hutan, dan seluruh komponen kehidupan, yang kembali mengukuhkan filosofi mendasar Ngayu-Ayu tentang menjaga keseimbangan dan harmoni dengan alam semesta.

Dukungan penuh dari pemerintah daerah dan antusiasme masyarakat serta tamu undangan dari berbagai penjuru Nusantara menegaskan komitmen bersama untuk merawat warisan budaya yang menjadi kunci kemakmuran Sembalun.(rus)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO