Tanjung (Suara NTB) – Anggota DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU), mengapresiasi inovasi yang dilakukan Kepala SMPN 3 Tanjung di masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Di mana, sebelum siswa baru memasuki masa aktif pembelajaran, sekolah menggelar Sungkeman antara siswa dengan kedua orang tua siswa. Pada acara tersebut, siswa diharuskan mencuci kaki kedua orang tua sebagai wujud bakti sekaligus memohon doa restu dari orang tua.
“Inovasi yang dilakukan SMPN 3 Tanjung, kami anggap luar biasa. Di era digital dan adab sudah mulai luntur, sekolah menjadi benteng penguatan nilai-nilai moral dalam diri peserta didik,” ungkap Anggota DPRD KLU, Artadi, S.Sos., Rabu, 16 Juli 2025.
Menurut dia, kegiatan Sungkeman perlu dilakukan lebih massif di sekolah-sekolah lain, baik di tingkat SMP maupun SD. Kegiatan ini tidak hanya mengandung pesan spiritual, tetapi menegaskan bahwa peradaban di mana anak-anak harus menghormati orang tua, guru, dan orang lain yang lebih tua, harus tetap dijaga.
Ibarat kata, ujar Artadi, anak ibarat kertas putih. Sejak usia dini, mereka harus dibiasakan untuk menciptakan adab, sopan santun, dan etika ketimuran yang sudah terpelihara dengan baik. Jangan sampai, karena pengaruh digitalisasi dan ruang publik yang terbuka lebar, menjadikan anak-anak berperilaku yang tidak sopan dalam bersosial dan bermasyarakat.
“Saya ikut terharu, anak-anak dan orang tua banyak yang menangis ketika momentum membasuh kaki. Ini menjadi pesan bagi kita semua, betapa doa restu orang tua adalah pintu menuju sukses dalam dunia pendidikan,” terangnya.
Lebih lanjut, Artadi menyatakan upaya-upaya non kurikulum yang bersifat etiket, merupakan bentuk pendidikan karakter bagi anak. Sebab untuk mencapai karakter seorang siswa, diperlukan upaya sistematis dan berkelanjutan untuk membentuk kepribadian yang berbudipekerti luhur.
“Sekolah, keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sama bahwa anak harus dibentuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, bertanggung jawab, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat pada masanya,” papar Artadi.
Politisi Partai Gerindra Lombok Utara ini menambahkan, banyak persepsi positif yang didapat dari Sungkeman tersebut. Selain mengharap ridho dan keberkahan selama siswa menimba ilmu, mereka juga termotivasi dengan kenangan ketika orang tua hadir pada masa orientasi sekolah.
“Sementara bagi sekolah, momen ini dapat digunakan untuk mempertajam program daerah seperti Saber Drop Out, larangan nikah dini, hingga silaturahmi antar wali murid. Saya rasa kegiatan ini perlu diikuti oleh sekolah lain. Bahkan kami mendorong agar Bupati mengeluarkan Surat Edaran supaya ada ritual meminta doa restu orang tua siswa secara massal di sekolah,” tandasnya. (ari)


