Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram mulai melakukan rekonstruksi terhadap bronjong yang amblas akibat banjir di sejumlah titik aliran sungai, khususnya di kawasan rawan longsor dan abrasi. Pembangunan bronjong dikebut, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Rekonstruksi ini difokuskan pada beberapa titik di wilayah Lingkungan Karang Kemong Kelurahan Cakranegara Barat dan Lingkungan Karang Sukun, Kelurahan Mataram Timur, terutama di sepanjang aliran Sungai Ancar, yang kerap menjadi langganan banjir saat musim hujan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahning saat dikonfirmasi pekan kemarin menyampaikan, pemasangan bronjong Sungai Ancar di Lingkungan Karang Kemong sudah mulai dikerjakan. Rekonstruksi bronjong yang dibangun saat ini memiliki panjang sekitar 165 meter. “Setelah banjir kemarin, sebagian struktur ambles dan membahayakan pemukiman warga di sekitarnya. Kami langsung tindak lanjuti dengan pengerjaan memasang bronjong kembali,” jelasnya.
Meski pemasangan bronjong sungai dalam tahap pengerjaan. Lale tidak merincikan besaran anggarannya. Pasalnya, biaya anggaran perbaikan bronjong dibantu dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I. Rekonstruksi dilakukan dengan mengganti kawat bronjong yang rusak serta menambahkan lapisan batu kali dan struktur penahan tambahan agar lebih kokoh dan tahan terhadap tekanan air.
Ia menyebutkan, untuk kerusakan talud sungai Ancar yang cukup para terjadi di daerah aliran sungai (DAS) di Lingkungan Lingkungan Karang Sukun, dan Karang Monjok, Kelurahan Mataram Timur, Kecamatan Mataram. Terkait dengan hal ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BBWS Nusa Tenggara I untuk melakukan kajian teknis pembangunan. “Dari sisi kewenangan memang lebih ke BWS, cuma nanti dalam rangka tahap rekonstruksi kembali dalam hal ini bisa kita sama-sama,” katanya.
Lale juga mengatakan, pihaknya telah menginventarisir kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, tanggul, bronjong, dan lain sebagainya. Proses asesmen ini belum termasuk kerusakan di beberapa pemukiman warga. Sebab, tembok rumah warga yang berdekatan dengan drainase jebol.
Selain itu, penghitungan ini bukan hanya fokus pada saluran di sungai tetapi saluran drainase menghubungkan kawasan satu dengan lain. Contohnya, di Lingkungan Kekalik Kijang dengan Perumahan Bumi Selaparang Asri. Di lokasi tersebut, terdapat tanggul jebol dan tembok pembatas rusak. “Di BTN Sweta dan Lingkungan Kebon Duren juga kita masih menghitung,” tambahnya.
Sementara, Wali Kota Mataram Dr. H. Mohan Roliskana mengeluarkan kebijakan penataan kawasan sungai. Penataan diprioritaskan di Sungai Ancar karena berada di kawasan tengah kota dan pemukiman warga. “Saya sudah mengeluarkan kebijakan untuk penataan kawasan sungai,” terangnya.
Mohan menyadari bahwa kawasan sungai menjadi ranah atau kewenangan dari BBWS Nusa Tenggara I. Akan tetapi, pihaknya harus mengambil peran untuk menangani pohon-pohon besar di pinggir sungai, bronjong, dan lain sebagainya.Orang nomor satu di Kota Mataram menilai salah satu faktor banjir disebabkan pohon besar yang hanyut dan menghalangi aliran air dan sampah. “Ini yang menjadi salah satu faktornya,” ucapnya.
Sungai di Kota Mataram kata Mohan, semestinya memiliki jalan inspeksi tetapi membutuhkan biaya besar untuk mengerjakan. Wali Kota menginginkan sesuatu yang dikerjakan sesuai dengan kapasitas atau kemampuan keuangan daerah. “Di daerah aliran sungai semestinya ada jalan inspeksi. Kalau itu BWS saja yang mengerjakan karena biayanya besar,” pungkasnya (pan)



