spot_img
Sabtu, Januari 31, 2026
spot_img
BerandaOPINILihat Lombok di Bali

Lihat Lombok di Bali

oleh :

H. Lalu Gita Ariadi

Setiap kali melintas jalur utama Denpasar ke Pelabuhan Padang Bai Bali ( atau sebaliknya ), di timurnya Goa Lawah, di simpang tiga Desa  Bugbug, selalu muncul keinginan untuk belok kiri ( kanan ) ke arah timur laut menuju Amlapura, Karangasem.

Sudah berpuluh puluh kali saya melintasi jalur utama itu. Sejak SMA tahun 1980an awal. Lebih lebih ketika kuliah di Universitas Brawijaya Malang dulu. Setiap berangkat balik Malang atau pulang liburan kuliah pastilah lewat jalur utama ini. Menggunakan bus malam Mataram – Malang seperti  Puspasari, Simpatik, Malang Indah, Bali Indah, DAMRI dan lain lain atau estapet cari bus malam ke Malang di terminal Ubung Denpasar.

Namun, hingga usia kini 60 tahun, belum sekalipun keinginan itu terpenihi. Hingga waktunya tiba, hari Minggu 20 Juli 2025  saya akhirnya sampai juga di Puri Agung Karangasem. Keluarga puri kebetulan ada acara, Karya Baligia Puri Agung Karangasem tanggal 21 Juli 2025 bertempat di Taman Ujung Amlapura Karangasem Bali.

Perjalanan dari simpang tiga ke Amlapura, meski baru pertama kali tapi terasa familiar. Perjalanan menyusuri pantai di sisi kanan seakan perjalanan ke Kabupaten Lombok Utara lewat Senggigi, Klui, Teluk Nare yang di sisi kiri kanan jalan bertumbuhan hotel dan rest area. Ketika  jalan berkelok kelok diantara tebing dan pohon – pohon besar, seakan terasa sedang perjalanan ke Kabupaten Lombok Utara lewat Pusuk, turun Menggale, Pemenang, Sigar Penjalin, Medane hingga Kota tanjung.

Amlapura dan Tanjung terasa ada kemiripannya. Sama-sama ibukota kabupaten yang masih di kelilingi banyak persawahan dan kebun dengan pohon besar menghijau dan air jernih mengalir.

Setiba di Amlapura, saya keliling putar-putar dalam kota. Jalannya memang tidak lebar-lebar. Lalu lintasnya tidak terlalu padat juga. Sebagai kota di perbukitan, jalannya banyak mendaki menurun. Kantor pemerintahan, perniagaan  dan rumah-rumah penduduk terasa nuansa arsitektur tradisional Bali.

Yang paling mencolok sekaligus sebagai episentrum kota, saya melewati dan mampir mengunjungi Puri Agung Karangasem yang nampaknya sedang ramai dan sibuk menyambut dan melayani tamu-tamu yang akan menghadiri Karya Baligia. Rombongan wisatawan mancanegara dengan tour leader masing-masing sibuk keliling keluar masuk puri.

Alhamdulillah, ada nuansa lain yang terasa beda. Di pusat dan sudut-sudut kota saya temui cukup banyak masjid. Bahkan di Taman Ujung lokasi Karya Baligia, pintu gerbang Taman Soekasada berhadap-hadapan langsung dengan gerbang masjid Alquddus ujung pesisi. Tempat kami parkir mobil sekaligus salat hari itu.

Semeton Sasaq

Ketika memasuki masjid dan melepas salam, serempak beberapa jamaah yang baru selesai salat zuhur dan duduk santai menyaksikan lalu lalang mobil peserta Karya Baligia menjawab salam dengan modulasi dan intonasi yang terasa akrab di telinga. Sambil sama-sama melepas senyum, saya perkenalkan diri sebagai tamu Karya Baligia dari Lombok. Kali ini jemaah yang rata-rata cukup berumur itu tidak lagi sekedar tersenyum tapi memeluk saya kegirangan.

Kami ini semeton Sasaq juga. Tyang dari Praya. Tyang dari Karang jangkong. Tyang dari Kediri kata mereka satu persatu perkenalkan diri.

Mamik Jaffar, 86 tahun merbot,  tokoh dan tetua masyarakat ujung pesisi Desa Tumbu mengaku nenek moyangnya sudah berada di sini sejak abad 17 / 18 lalu. Semeton Sasaq muslim tersebar di seluruh penjuru Karangasem. Kurang lebih ada  dua puluhan  kampung muslim sasak. Di sekitar Masjid Al Quddus ini bermukim sekitar 300 an KK atau kurang lebih seribuan jiwa.

Anak Agung Ketut dari Puri Pamotan Cakranegara, yang hadir di Karya Baligia Puri Agung Karangasem membenarkan tentang banyaknya kampung Semeton Sasaq Muslim ini. Secara geografis, Puri Agung Karangasem dikeliling kampung Muslim Sasak. Misalnya, sebelah barat ada kampung Ampel. Di timur ada lingkungan Nyuling. Demikian juga di utara dan selatan. Setiap ada properti kerajaan ada pemukiman semeton Sasaq Muslim  hingga ke arah pantai taman ujung pesisi banyak kampung Muslim Sasaq. Di Jasi, Pengadangan, Jeruk Manis, Seraye, Kampung Bukit Tabuan dan lain-lain.

Baiq Sri Yuliati, dari Pademare Lotim, teman seangkatan di Smansa Mataram  tahun 1984, mengaku banyak  keluarganya tinggal di Desa Ujung Pesisi. Menggarap sawah dan lahan luas dan subur pemberian Anak Agung dulu.

Loq Bedul, yang pekerjaan sehari-harinya nelayan, mengaku sering bolak balik Lombok – Karangasem menjenguk dan mengantarkan sangu anaknya yang nyantri mondok di Ponpes Darul Falah Pagutan Kota Mataram. Setelah ketemu anak, tiang balik dan tidak insah berlama-lama di Lombok. Tidak ada lagi keluarga dekat yang akan di cari karena papuk baloq tiang semua di Karangasem. Tiang generasi kedelapan atau kesembilan yang kawin mawin berketurunan di Karangasem. Amaq tiang batur Sasak Muslim. Inaq tiang muallaf. Pisak-pisak tiang semua niki yang punya villa dekat pesisi. Kata Loq Bedul dengan logat bahasa sasaq ampenan yang masih terpelihara utuh.

Menjelang magrib,  seorang pecalang yang seragamnya persis seperti pecalang di kampung-kampung Hindu di Cakranegara, masuk masjid Al Quddus dan langsung berwudhu. Saya kaget, pecalang kok berwudhu ? Selesai berwudhu, si pecalang yang bernama Suwarno itu ikut  nimbrung dalam obrolan yang sudah cukup lama. Tiang semeton Sasaq muslim juga. Sedang ngayah ikut tugas amankan Karya Baligia. Tiang tinggal di Lingkungan Bangras baratnya Puri Agung Karangasem. Papuq Baluq tiang kocap cerite dari Bayan Dayen Gunung.

Di akhir obrolan setelah belauq bedaye betimuk berbat, loq bedul bertanya. Mamik piran side uleq dan lewat mbe ? Saya jawab, saya pulang besok pagi lewat Ngurah Rai Denpasar. Spontan Loq Bedul usul. Jangan pulang lewat  Denpasar terlalu jauh dan tikek mahal. Silak tyang anter mamik kadu sampan motor dari ujung pesisi niki langsung ke Pondok Prasi Ampenan. Kalo cuaca bagus kita butuh hanya satu setengah jam sampai di lombok. Tyang sering bolak balik pakai sampan motor. Insyaallah aman Miq.

Tawaran Loq Bedul ini terasa ngeri-ngeri sedap. Teringat musibah kapal yang tenggelam di selat Gilimanuk – Ketapang. Atau kapal laut yg  terbakar. Teringat warning BMKG tentang cuaca extrem. Teringat dulu tahun 1980 an kalo tidak salah,  pernah perenang – perenang Rinjani Diving Club ingin taklukkan selat Lombok ini dengan berenang. Tapi ikhtiar itu gagal karena serangan ubur-ubur dan terseret arus laut yang cukup keras.

Alhamdulillah…..Karya Baligia yang dihadiri tokoh Forum Keraton Nusantara, Tokoh Forum Sillaturrahmi Keraton Nusantara, Raja – raja dan penglisir puri se Bali, pajabat pusat dan daerah, kerabat puri di Karangasem dan lain-lain, membawa cerita tersendiri. Saya melihat Lombok ada di Bali. Bukan hanya lihat Bali yang ada di Lombok…..!!!!

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO