spot_img
Minggu, Februari 22, 2026
spot_img
BerandaNTBMenuju Pendakian Berstandar Global, Pemprov NTB Gelar Diskusi Benahi Tata Kelola Gunung...

Menuju Pendakian Berstandar Global, Pemprov NTB Gelar Diskusi Benahi Tata Kelola Gunung Rinjani

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB terus mendorong perbaikan besar-besaran dalam tata kelola wisata pendakian Gunung Rinjani. Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menyebut, langkah ini merupakan bagian dari komitmen untuk menjadikan Rinjani sebagai destinasi pendakian berstandar global, sekaligus meningkatkan aspek keselamatan dan partisipasi publik.

“NTB ini sangat cocok untuk wisata petualangan, karena masyarakat kita sendiri terbiasa hidup dalam semangat petualangan,” ujarnya pada Forum Penjaringan Masukan Perumusan Kebijakan Rinjani Destinasi Pendakian Berstandar Global  yang digelar Bappeda NTB, Selasa, 22 Juli 2025.

Namun, di tengah geliat pariwisata petualangan, NTB dihadapkan pada kenyataan minimnya kesiapan menghadapi situasi darurat.  “Kita tidak punya sama sekali rencana kontijensi untuk setiap skenario bencana yang mungkin terjadi,” ungkapnya.

Padahal, NTB termasuk wilayah ring of fire atau wilayah yang rawan diterjang bencana, mulai dari gempa, angin kencang, banjir, dan sebagainya. “Tapi kita belum punya skema kontijensi yang lengkap.”

Iqbal menegaskan, setiap destinasi wisata di NTB seperti Rinjani, Mandalika, dan Senggigi seharusnya sudah memiliki peta potensi bencana dan rencana aksi yang jelas, baik untuk penduduk lokal maupun wisatawan.

Salah satu kemajuan penting dalam memetakan manajemen resiko dengan melibatkan masyarakat. Menurut mantan Dubes RI untuk Turki ini, kesadaran dan keinginan masyarakat untuk berpartisipasi pada sektor pariwisata cukup tinggi, namun tidak ada fasilitasi yang memadai.

“Pemerintah terlalu merasa ini tanggung jawabnya sendiri. Padahal di luar sana banyak yang mau membantu,” katanya.

Untuk itu, Pemprov NTB telah melakukan langkah konkret  dengan melatih sebanyak 22 personel dalam pelatihan vertical rescue. Pelatihan ini akan berlanjut dalam beberapa gelombang ke depan. Selain itu, upaya penguatan jalur pendakian juga dilakukan dengan mengembalikan para pendaki ke jalur resmi demi keselamatan.

“Kita juga sudah mulai taruh peralatan penyelamatan di titik-titik atas, tidak lagi hanya di bawah. Sehingga ketika terjadi kecelakaan, respons kita bisa lebih cepat. Dari berjam-jam, kini bisa sampai dalam setengah jam,” sambungnya.

Selain aspek keselamatan, perhatian juga diberikan pada hal-hal mendasar, termasuk istilah yang digunakan dalam promosi wisata yang sebelumnya trekking, diubah menjadi mountaineering.

Dia menegaskan, pembenahan Rinjani bukan proyek jangka pendek, namun akan terus dikembangkan hingga Rinjani bisa berstandar internasional.

Adapun alasan pihaknya melakukan pembenahan di musim tinggi pendakian karena dirinya ingin memanfaatkan situasi supaya para pendaki bisa menceritakan bagaimana keindahan dan perubahan Rinjani.

“Ini hanya langkah awal. Kita lakukan sekarang saat musim pendakian, supaya wisatawan bisa lihat sendiri perubahannya. Ada testimoni langsung dari para pendaki,” ucapnya.

Pemerintah bersama pemangku kepentingan sepakat untuk menyusun ulang tata kelola Rinjani secara menyeluruh. Dengan pendekatan kolaboratif, NTB berharap Rinjani tidak hanya jadi destinasi favorit nasional, tapi juga mendunia dengan standar keselamatan dan keberlanjutan kelas dunia. “Banyak standar di dunia ini. Tidak ada yang benar-benar baru, kita tinggal belajar,” pungkasnya.

Destinasi Kelas Dunia

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, H. Iswandi, M.Si mengatakan terus menguatkan komitmen untuk menjadikan Gunung Rinjani sebagai destinasi pariwisata petualangan berkelas dunia.

Untuk itu, perlu adanya keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya mengandalkan peran pemerintah atau pengelola Taman Nasional.

“Kegiatan pada hari ini merupakan satu kegiatan memperkuat langkah-langkah yang sudah diambil oleh Pak Gubernur dalam memastikan bahwa di hari-hari ke depan Rinjani mesti harus bersih, aman, dan kelestarian lingkungannya terjaga,” tegasnya.

Selain aspek kebersihan dan keselamatan, daya tarik Rinjani di mata wisatawan mancanegara juga menjadi perhatian serius. Rinjani telah lama dikenal sebagai ikon pariwisata NTB yang mendunia, dan seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, kebutuhan akan pengelolaan yang memenuhi standar global menjadi tak terelakkan.

“Di samping kita tetap memastikan bahwa Gunung Rinjani akan semakin banyak didatangi oleh turis dari mancanegara, ini memerlukan kebijakan yang berkelanjutan dan memerlukan partisipasi dari kita semua,” lanjutnya.

Kebijakan nasional telah menetapkan NTB sebagai salah satu daerah unggulan dalam pengembangan pariwisata petualangan. Dalam konteks ini, Rinjani menjadi ujung tombak yang harus dikelola dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan dan keselamatan, baik bagi pendaki maupun lingkungan.

Sebagai salah satu destinasi wisata petualangan andalan Indonesia, Rinjani tidak hanya dituntut untuk memberikan pengalaman wisata yang menarik, tetapi juga harus menunjukkan kesiapan dalam aspek infrastruktur, mitigasi risiko, manajemen pengunjung, serta sistem penanganan darurat.

Dalam Rencana Kerja Pemerintah Pusat, NTB dijadikan sebagai destinasi petualangan. Destinasi petualangan menjadi prioritas pusat yang harus ditindaklanjuti oleh daerah. Sehingga selain Mandalika sebagai kawasan super prioritas, Rinjani juga termasuk.

Selain menjadi kawasan prioritas, Rinjani juga harus memastikan semua unsur di dalamnya dapat berkembang bersama, seperti halnya pelestarian lingkungan, budaya, serta masyarakat. “Ada integrasi antara upaya pelestarian alam dan konsep pendekatan sosial budaya,” pungkas Iswandi.

Kedepankan Ekologi Rinjani

Filsuf dan Kritikus ternama, Rocky Gerung meminta Pemprov NTB mengedepankan ekologi kawasan Rinjani. Dia juga menyinggung bahwa tata kelola Rinjani selama ini masih minim dalam pendekatan risiko. Yang mana pengelolaan Taman Nasional ini hanya diserahkan kepada pemerintah.  “Ada manajemen risiko yang tidak dimaksimalkan. Padahal setiap peristiwa di Rinjani menunjukkan, tidak cukup masalah ini diserahkan hanya ke ASN,” ujarnya.

Menurutnya, memahami gunung berarti menyatu dengan keindahan dan kenyamanan di kawasan tersebut. Apalagi, Rinjani menjadi salah satu gunung terindah di dunia. Untuk itu para pemangku kebijakan harusnya menjadikan kelestarian alam Rinjani nomor satu di samping aspek ekonomi di kawasan tersebut. Sebab, menurutnya Rinjani merupakan ‘’pembuluh darah’’ NTB yang memberikan kehidupan bagi daerah ini.

“Basis kebijakan itu adalah merawat ibu bumi. Supaya ada ide yang hendak diucapkan melalui policy NTB adalah wise policy, basisnya adalah wisdom, sumber legitimasinya adalah etic of care, tujuannya adalah rahim bumi” terangnya. (era)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO