spot_img
Jumat, Februari 20, 2026
spot_img
BerandaPENDIDIKANProdi Bastrindo FKIP Unram Gelar Bimtek Tingkatkan Kualitas Proposal Penelitian

Prodi Bastrindo FKIP Unram Gelar Bimtek Tingkatkan Kualitas Proposal Penelitian

Mataram (Suara NTB) – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrindo) FKIP Universitas Mataram (Unram), menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk Optimalisasi Kualitas Proposal Penelitian Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek. Sebanyak 43 orang dosen Prodi Bastrindo mengikuti bimtek di ruang sidang FKIP Unram, Rabu, 23 Juli 2025.

Bimtek itu sebagai upaya meningkatkan kualitas proposal penelitian dosen yang akan diusulkan pada skema pendanaan DPPM Kemdiktisaintek tahun 2026. Koordinator Prodi Bastrindo, Dr. Saharudin, M.A., membuka Bimtek ini. Tiga dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah berhasil memperoleh hibah Dikti sebelumnya hardir sebagai narasumber. Mereka membagikan strategi dan pengalaman dalam menyusun proposal yang unggul dari sisi administratif maupun substansi ilmiah.

Saharudin mengapresiasi semangat para dosen dalam meningkatkan kualitas proposal penelitian. “Kegiatan ini bukan hanya sebagai ajang berbagi strategi teknis, tetapi juga sebagai langkah konkret menumbuhkan budaya riset yang berkelanjutan di lingkungan Prodi,” ujarnya.

Pada sesi pertama, salah satu narasumber, Dr. Burhanuddin, M.Hum., memaparkan secara rinci aspek-aspek yang menjadi perhatian reviewer dalam menilai proposal penelitian. Khususnya dari segi kelengkapan administrasi. Ia menekankan pentingnya kesesuaian antara isi dan format, jumlah kata pada setiap bagian proposal, serta ketepatan dalam penggunaan sitasi dan penulisan daftar pustaka.

“Penilaian administrasi tidak hanya soal kelengkapan dokumen, tetapi juga menyangkut ketepatan kata dan koherensi antarbagian. Bahkan kesalahan kecil dalam penggunaan sitasi dapat menjadi penilaian minus,” jelasnya.

Ia mengurai dimensi penilaian substansi yang mencakup kebaruan riset, rekam jejak publikasi pengusul, serta keterkaitan antara kepakaran peneliti dengan topik yang diajukan. Dalam konteks kebaruan, Burhanuddin menjelaskan bahwa kebaruan tidak hanya hadir dari teori atau objek baru, melainkan juga dapat dibangun dari pendekatan riset atau cara mempertentangkan aspek-aspek yang sudah ada.

“Jangan terpaku bahwa kebaruan harus selalu teori baru. Bisa saja dari sudut pandang, pendekatan, atau bahkan pertentangan logis terhadap penelitian terdahulu,” ujarnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya melampirkan hasil karya ilmiah seperti buku dan publikasi internasional bereputasi sebagai bentuk penguatan kapabilitas pengusul.

Sesi kedua disampaikan oleh Dr. Ahmad Sirulhaq, M.A., yang membahas strategi dalam menggali ide penelitian, merancang judul yang menarik, serta mengembangkan substansi proposal secara terstruktur. Ia menekankan bahwa kekuatan utama proposal terletak pada relevansi ide dengan kebutuhan keilmuan maupun masyarakat, serta kejelasan arah penelitian.

Menurutnya, pemilihan judul harus mempertimbangkan kejelasan dan daya tarik, karena menjadi pintu masuk pertama bagi reviewer untuk menilai keseriusan dan potensi proposal. Ia juga menyoroti pentingnya membangun narasi proposal secara logis, mulai dari latar belakang, rumusan masalah, hingga tujuan dan metodologi, agar terbaca sebagai satu kesatuan argumentasi yang solid.

Hal menarik yang disampaikan Sirulhaq adalah bahwa proposal yang belum lolos pendanaan pada tahun-tahun sebelumnya tetap memiliki potensi besar untuk diusulkan kembali. “Sering kali yang kita butuhkan bukan ide baru, melainkan cara baru untuk mengemas, memfokuskan, dan memperkuat argumen pada proposal yang pernah ditolak,” ujarnya.

Ia mendorong para dosen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proposal lama dan menggunakannya sebagai bahan mentah yang siap diolah ulang menjadi proposal yang lebih tajam dan kompetitif.

Sesi ketiga diisi oleh Prof. Dr. Mahsun, M.S., yang secara mendalam membahas tentang cara mengoptimalkan substansi proposal. Dalam presentasinya, ia menekankan bahwa kekuatan utama sebuah proposal penelitian terletak pada bagaimana perumusannya berangkat dari masalah yang otentik dan relevan.

“Ada tiga sumber utama masalah penelitian. Pertama, adanya informasi yang menimbulkan kesenjangan dalam pengetahuan kita; kedua, hasil-hasil penelitian sebelumnya yang saling bertentangan; dan ketiga, realitas empiris yang belum diteliti dan perlu diselidiki lebih lanjut,” urai Prof. Mahsun.

Prof. Mahsun menekankan bahwa pengusul harus mampu merumuskan masalah penelitian secara tajam dan logis dengan dilandasi oleh studi literatur yang kuat dan kontekstual. Hanya dengan dasar inilah, tujuan dan luaran penelitian akan tampak relevan dan meyakinkan di mata reviewer. (ron)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO