spot_img
Jumat, Februari 13, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWAHaji Jarot Serukan Pelestarian Tradisi "Mangan Barema"

Haji Jarot Serukan Pelestarian Tradisi “Mangan Barema”

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Bupati Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin, mengatakan tradisi “mangan barema” (makan bersama) harus tetap dan terus dilestarikan sebagai wujud rasa syukur dan mempererat silaturahmi.

“Kegiatan ini ” Mangan Barema” merupakan tradisi yang sarat makna, di mana kita semua berkumpul, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan,” kata Haji Jarot saat membuka kegiatan Mangan Barema di desa Tatede, Kecamatan Lopok, Kamis, 24 Juli 2025.

Haji Jarot, meyakinkan, tradisi ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa saling menghargai yang telah diwariskan oleh leluhur. Oleh karena itu, tradisi harus terus dijaga serta dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.

“Desa Tatede, sebagai desa budaya, memiliki peran penting dalam menjaga kekayaan budaya Sumbawa dan tradisi mangan Barema ini sebagai bentuk dalam merawat warisan budaya,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan budaya. Semoga kegiatan “mangan Barema” bisa semakin mempererat silaturahmi, menjaga kerukunan, dan melestarikan budaya lokal.

“Tradisi ini diharapkan bisa lebih inovatif dengan menyisipkan tambahan kegiatan. Yakni mengawalinya dengan gotong royong atau hal lainnya yang lebih bermanfaat, sehingga memberikan gambaran bahwa masyarakat adalah masyarakat pekerja,” tukasnya.

Kades Tatede, Subadri melaporkan tradisi mangan Barema ini dalam rangka memperkuat silaturahmi dan melestarikan budaya lokal. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun. Serta, sebagai wujud rasa syukur atas hasil penan melimpah

“Alhamdulillaah kami masyarakat Desa Tatede, Kecamatan Lopok, tetap secara konsisten terus melestarikan adat istiadat lokal ” Mangan Barema ini,” pungkasnya.

Tradisi Mangan Barema ini merupakan agenda yang pelaksanaannya menjadi seremoni rutin Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Di era kepemimpinan sebelumnya, tradisi ini juga digelar rutin.

Bupati Kabupaten Sumbawa periode 2021–2024, Drs. H. Mahmud Abdullah, mengatakan bahwa acara “Mangan Barema” (makan bersama) harus terus dilestarikan sebagai wujud rasa syukur dan mempererat silaturahmi.

“Kegiatan ini “mangan barema” merupakan tradisi yang sarat makna, di mana kita semua berkumpul, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan,” kata Haji Mo saat kegiatan mangan barema di desa Tatede, Kecamatan Lopok, Senin, 22 Juli 2024 lalu.

Haji Mo meyakinkan, tradisi ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa saling menghargai yang telah diwariskan oleh leluhur. Oleh karena itu, tradisi harus terus dijaga serta dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.

“Desa Tatede, sebagai desa budaya, memiliki peran penting dalam menjaga kekayaan budaya Sumbawa dan tradisi Mangan Barema ini sebagai bentuk dalam merawat warisan budaya,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung dan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan budaya. Semoga kegiatan “mangan barema” bisa semakin mempererat silaturahmi, menjaga kerukunan, dan melestarikan budaya lokal.

“Tradisi ini diharapkan bisa lebih inovatif dengan menyisipkan tambahan kegiatan. Yakni mengawalinya dengan gotong royong atau hal lainnya yang lebih bermanfaat, sehingga memberikan gambaran bahwa masyarakat adalah masyarakat pekerja,” tukasnya.

Kades Tatede, Subadri, kala itu melaporkan bahwa Mangan Barema ini dalam rangka memperkuat silaturahmi dan melestarikan budaya lokal. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun. Serta, sebagai wujud rasa syukur atas hasil penan melimpah.

“Alhamdulillaah masyarakat Desa Tatede, Kecamatan Lopok, Kabupaten Sumbawa secara konsisten terus melestarikan adat istiadat local “Mangan Barema ini,” ucapnya.

Sementara Camat Lopok, Ifan Indrajaya merasa bangga karena para pejabat daerah dapat hadir di acara tersebut. Desa Tatede ini adalah desa budaya yang rutin melaksanakan tradisi ini.

“Kegiatan ini sebagai wujud syukur masyarakat atas rahmat dan rezeki baik hasil bumi, tanah, air dan udara. Kami berharap tradiasi ini bisa masuk dalam kalender wisata kabupaten maupun propinsi sehingga budaya ini dapat dikenal lebih luas,” tutupnya. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO