Mataram (Suara NTB) – Pelaksanaan Festival Olahraga Masyarakat Nasional ke-VIII di Kota Mataram, memberikan kesan menarik bagi peserta dari luar kota. Kearifan lokal yang kuat, keramahan masyarakat serta venue tertata dengan baik. Salah satunya venue di eks Bandara Selaparang yang membuat pegiat, ofisial, dan juri kagum.
Yosi, pegiat asal Kalimantan Selatan mengutarakan kekagumannya dengan venue di eks Bandara Selaparang. Pasalnya, lokasinya merupakan tanah keras atau diaspal, anginnya bagus untuk pelayang dan memberikan kesan tersendiri dibandingkan venue di kota penyelenggaraan Fornas sebelumnya. “Lokasi lomba di sini bagus. Tempatnya sangat luas dan tanahnya aspal sehingga tidak menyulitkan,” katanya.
Ia merasa bangga dengan kearifan lokal khususnya di Kota Mataram dan Pulau Lombok secara umum. Ia membandingkan di daerahnya, di Banjarmasin kearifan lokal tidak terlalu kuat, sehingga Mataram memberikan kesan positif bagi dirinya. “Turun dari Bandara kearifan lokalnya sudah terlihat jelas. Begitu sampai di Mataram juga saya tidak menyangka ternyata kotanya bagus sekali dan tertata rapi,” ujarnya.
Yosi merupakan pegiat Perkumpulan Pelayang Indonesia (Pelangi). Fornas VIII di Mataram merupakan ketiga kalinya mengikuti lomba layang hias. Train naga adalah salah satu yang diperlombakan. Juri akan menilai dari bawah dan atas. Penilaian dari bawah dilihat dari tingkat kesulitan, pemilihan kreasi, kerapian, dan lain sebagainya. Sedangkan, penilaian atas dilihat dari kontras dan cara joki memainkan layangan.
Ia menilai venue di eks Bandara Selaparang memiliki tantangan tersendiri. Angin cukup kencang dan memutar sehingga membutuhkan keahlian pelayang untuk memainkan layangannya.
Pegiat Asal Sumatera Selatan, M. Yunus mengaku, sangat senang mengikuti Fornas VIII di Kota Mataram. Masyarakat sangat ramah dan penyambutan sebagai tuan rumah sangat bersahabat. “Saya cukup senang karena penyambutannya bagus dan masyarakat sangat bersahabat,” tuturnya.
Ia menilai venue di eks Bandara Selaparang sangat bagus. Tempatnya luas, tanahnya keras atau beraspal, dan anginnya bagus. Kendalanya adalah anginnya berputar, sehingga membutuhkan keahlian dari pegiat untuk memainkan layangan hiasnya. “Area di sini sangat luas sekali dan bagus,” ujarnya.
Yunus bukan orang baru di Perhimpunan Pelayang Indonesia. Layang buatannya pernah dimainkan di Denmark dalam misi kebudayaan. Bermain layangan salah satu hobinya diharapkan menorehkan prestasi di tingkat nasional. (cem/*)


