BENCANA banjir yang terjadi baru-baru ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak, terutama dalam hal pengelolaan sampah dan sedimentasi sungai. Pemerintah diminta untuk meningkatkan pengawasan, sementara masyarakat diimbau untuk lebih disiplin dalam membuang sampah.
Ketua DPRD Kota Mataram, Abdul Malik, S.Sos., menyatakan bahwa musibah memang tidak bisa diprediksi dan datang secara tiba-tiba. Namun, menurutnya, peristiwa ini seharusnya menjadi bahan pembelajaran bersama.
“Kalau itu menjadi salah satu penyebab di luar penalaran manusia, ya kita harus tetap lakukan apa yang menjadi tugas kita. Salah satunya terkait sedimentasi di sungai-sungai, saya lihat volume sampah jauh lebih besar ketimbang debit air,” ujarnya kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, kemarin.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat melakukan peninjauan di hari kedua pascabanjir, terlihat banyak pohon yang tumbang. Pohon-pohon ini membawa serta ranting dan cabang yang kemudian menyangkut di aliran sungai. Di titik inilah tumpukan sampah semakin menumpuk, sehingga aliran air tersumbat dan meluber ke pemukiman warga.
“Kalau kita melihat, sebenarnya pemerintah sudah melakukan banyak hal seperti penjaringan sampah. Tapi sayangnya, masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Ini perlu pengawasan yang lebih intens,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa musim hujan diperkirakan akan mulai datang pada Bulan Oktober, sehingga tindakan antisipatif harus segera dilakukan. Salah satu langkah yang dianggap penting adalah pengecekan saluran air secara berkala dan menyeluruh, serta membuat terobosan-terobosan dalam penanganan banjir.
“Saya pikir perlu dilakukan rutinitas pengawasan agar kita lebih siap. Pencegahan dan kewaspadaan jauh lebih baik daripada penanganan setelah bencana,” katanya.
Pemerintah daerah pun diharapkan tidak hanya bertindak reaktif, tetapi mulai menerapkan sistem pemantauan dan edukasi yang konsisten kepada masyarakat, terutama mengenai dampak pembuangan sampah sembarangan terhadap lingkungan dan bencana banjir. (fit)

