Selong (Suara NTB) – Ketua Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) Kabupaten Lombok Timur (Lotim), H. Muh Edwin Hadiwijaya, menegaskan pentingnya perbaikan data sebagai langkah awal menekan angka stunting yang masih tinggi. Hal ini disampaikannya di Selong, Kamis, 30 Juli 2025, menyikapi temuan terkini tentang Keluarga Berisiko Stunting (KRS) dan prevalensi stunting di wilayahnya.
Berdasarkan data tahun 2024, jumlah KRS di Lotim mencapai 53.303 keluarga. Jumlah ini dinulai masih sangat tinggi. Sementara itu, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting Lotim sebesar 33,2 persen. Angka ini diakui masih jauh dari rata rata nasional 19 psrsen.
Target penurunan Lotim tahun 2025 ini dihadapkan bisa menyisakan sebesar 25 persen persen. “Yakin pasti ada korelasi KRS dengan stunting. Kalau KRS turun mestinya stunting turun. Hal ini harus dievaluasi ke depan,” ungkap Edwin yang turut mempertanyakan di tengah menurunnya KRS semestinya berbanding lurus juga dengan penurunan stunting. Namun data SSGI menunjukkan justru terjadi kenaikan. Sebumnya 2023 sebesar 27 persen menjadi 33,2 persen.
Ia menekankan bahwa data yang akurat mutlak diperlukan untuk perencanaan yang tepat sasaran. “Makanya data harus diperbaiki. SSGI yang hasilkan 33,2 persen dihadapkan tidak salah data. Minta data lebih akurat sebagai langkah awal bisa bekerja lebih terencana.”
Edwin mengakui tantangannya besar. Dengan 53.303 KRS yang harus didampingi dan target penurunan stunting sebesar 8 persen. Atau dari 33,2% ke 25 persen. Untuk mencapai target ini diperlukan strategi yang sangat fokus. “Karena kita selama ini belum punya peta ini. Karena itu kita mau fokus lagi, buat perencanaan lebih,” ujarnya. Ia menambahkan, dia yakin seyakin-yakinnya ketika data dan perencanaan sudah baik maka hasilnya juga akan baik. (rus)


