spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURLotim Disebut Jadi Kunci Keberhasilan NTB Tekan Stunting

Lotim Disebut Jadi Kunci Keberhasilan NTB Tekan Stunting

Selong (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) sebagai daerah dengan jumlah penduduk terbesar di NTB disebut menjadi daerah kunci keberhasilan menekan kasus stunting. Prevalensi stunting di NTB NTB 29 persen. Lotim diketahui 33 persen. Hai ini berat sama dengan dari 100 anak, hampir 30 anak yang stunting, yakni anak yang tingkat IQ lemah, pendek otaknya dan masalah lainnya yang diderita anak stunting

Hal ini dikemukakan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) NTB, Dr. H. Lalu Makrifuddin saat rapat koordinasi Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (Genting) di Pendopo Bupati Lotim, Selong, Kamis, 31 Juli 2025.

Makrifuddin menyebut, target di Lotim 11.800. Lotim penentu keberhasilan program di NTB. “Berhasil Lotim, berhasil NTB. Gagal Lotim, maka gagal NTB. Karena itu, kita dorong Lotim semua program berhasil,” ucapnya.

PR besar cegah stunting cukup besar, utamanya dalam menghadapi nikah usia anak. Ketika anak masa pertumbuhan, kata Makrifuddin rahimnya masih mekar, kena benda tumpul, akan membekas dan menimbulkan satu titik. Titik inilah dalam rahim inilah yang bisa menjadi cikal bakal kanker rahim atau serviks. Serviks rangking tiga penyebab kematian. “Karena itu kita harus cegah nikah anak,” tegasnya.

Menurut Kepala BKKBN NTB ini,  jalan lahir anak normal orang dewasa 10 cm. Kepala bayi ukurannya 9 sampai dengan ,9,8 cm, sehingga jalan lahir orang dewasa lebih lebar. Tapi, ketika kehamilan terjadi usia anak, maka jalan lahir di bawah 10 cm.  Kepala bayi yang dikeeluarkan lewat mulut rahim ini sangat rentan terjadinya kasus kematian bayi dan ibu.

Selanjutnya, ketika masa pertumbuhan belum selesai lalu hamil, tulang terhenti pertumbuhannya, sehingga terjadi tulang keropos. Jatuh di kamar mandi akan membuatnya susah sembuh.

Dampak yang paling mengkawatirkan adalah bagi bangsa dan negara. Ibu muda melahirkan usia muda akan menyebabkan anak stunting. “Pendek dia punya otot dan pendek otaknya. Inilah yang banyak lahirkan anak stunting. Pastinya,  akan berdampak pada rendahnya ketahanan sosial ekonomi generasi bangsa,” imbuhnya.

Ketua Tim Percepatan, Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) Lotim yang juga Wakil Bupati Lotim, H. Muh. Edwin Hadiwijaya menyampaikan Lotim cukup rasional sebagai daerah kunci karena jumlah penduduk NTB ini 25 persen ada di Lotim.

Diakui, prevalensi Stunting di Lotim 33 persen ini masih cukup tinggi. Sementara tim yang menggempur kasus stunting ini diketahui cukup besar. Diinginkan Wabup semua tim ini bergerak dan diawali dengan memastikan validasi data. Selama ini dikesankan Wabup penyajian data ini sekadar saja. Tidak menghadirkan data-data pokok. “Hanya pokoknya data,” ungkapnya.

Wabup pada saat rakor kemarin telah meminta memaksimalkan capaian target 11.868 ribu pendampingan Keluarga Risiko Stunting. Pelibatan semua unsur dari kabupaten, kecamatan hingga desa diyakini akan bisa mencapai target tersebut.

Jumlah tim pendamping keluarga di Lotim diketahui sebanyak 3.063 orang tersebar di seluruh desa dan Kelurahan se Lotim. Belum lagi Tim Penggerak PKK, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) dan unsur lembaga lainnya.

Jumlah KRS di Lotim diketahui terus mengalami penurunan. KRS 2024 19,39 persen atau 53.303 dari sebelumnya 80 ribu. Seiring dengan penurunan KRS ini sejatinya berbanding lurus dengan penurunan stunting. Namun fakta prevalensi stunting sesuai hasil SSGI tahun 2024 justru naik dari 27 persen menjadi 33 persen.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim, H. Ahmat mengatakan sudah menyiapkan data by name by address KRS yang akan jadi sasaran Genting. Dia optimis, target 11 ribu KRS ini bisa memiliki orang tua asuh, sehingga bisa lebih cepat menekan kasus stunting. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO