Sumbawa Besar (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa, mengaku hampir semua desa di kecamatan Lape mulai mengalami krisis air bersih kalaupun masih ada air di beberapa sumur warga tetapi tidak bisa digunakan oleh masyarakat.
“Jadi, ada juga sumber airnya yang bisa dimanfaatkan tetapi kualitas airnya tidak bisa digunakan untuk minum mencuci karena bau. Hal itu terjadi karena ada intrusi air laut ke dalam sumur warga,” Kata Kepala Pelaksana BPBD, Muhammad Nur Hidayat kepada Suara NTB, Jumat, 1 Agustus 2025.
Dayat melanjutkan, berdasarkan data saat ini ada di kecamatan Lape ada sekitar 4 desa terutama desa yang berada di pesisir dan kaki gunung. Desa-desa tersebut yakni Desa Lape, Labuhan Kuris, Dete, dan desa Hijrah yang saat ini terdampak kekeringan.
“Terhadap desa-desa ini belum kita distribusikan air bersih, karena kita masih dalam proses penandatanganan status siaga darurat kekeringan,” ucapnya.
Ia pun meyakinkan, ketika nanti ada kecamatan lainnya yang meminta distribusi air bersih baru akan dilakukan penetapan status darurat baru akan dilakukan pendistribusian air bersih. Bahkan tidak hanya biaya dari APBD Kabupaten, Provinsi termasuk juga dari APBN untuk diprioritaskan dalam penanganan kekeringan.
“Kami belum bergerak karena statusnya masih belum darurat kekeringan, kendati demikian kami juga akan tetap melakukan upaya dalam membantu masyarakat terdampak kekeringan,” jelasnya.
Dia pun meyakinkan, siklus musim kemarau ini hampir terjadi setiap tahun dan pola antisipasi juga sudah disiapkan oleh pemerintah. Pihaknya pun memprediksi awal musim kemarau akan terjadi pada bulan hingga bulan Agustus hingga bulan September mendatang.
“Memang baru beberapa desa meminta air bersih, tetapi hasil pantauan di lapangan beberapa sumber mata air yang masih bisa digunakan sehingga belum kita distribusikan air bersih,” timpalnya.
Ia menambahkan, adapun wilayah yang masuk dalam kategori rawan terjadi bencana kekeringan yakni bagian utara Pulau Sumbawa. Bahkan saat ini tercatat ada sekitar 40 desa yang diprediksi terdampak kekeringan sesuai dengan kondisi tahun sebelumnya.
“40 desa itu tahun lalu yang kita distribusikan air bersih, kalau untuk tahun ini kita belum tahu karena belum ada permintaan,” tutupnya. (ils)


