spot_img
Rabu, Januari 28, 2026
spot_img
BerandaEKONOMITertinggi di Indonesia, Aset Bank Dinar Tembus Rp1,84 Triliun per Juli 2025

Tertinggi di Indonesia, Aset Bank Dinar Tembus Rp1,84 Triliun per Juli 2025

Mataram (Suara NTB) – Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) Dinar Ashri, atau lebih dikenal sebagai Bank Dinar, mencetak rekor nasional dengan menjadi BPRS dengan total aset terbesar di Indonesia. Hingga akhir Juli 2025, total aset Bank Dinar tembus Rp1,843 triliun, tumbuh 25,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Direktur Utama Bank Dinar, Mustaen, menyampaikan apresiasinya atas capaian luar biasa ini. “Alhamdulillah, posisi pembiayaan kami per Juli telah mencapai Rp1,665 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1,180 triliun. Pertumbuhan ini mengantar kami menjadi BPRS dengan aset terbesar secara nasional,” ujarnya di Mataram, Senin, 4 Agustus 2025.

Pertumbuhan signifikan Bank Dinar tidak hanya berasal dari pembiayaan, tetapi juga ditopang oleh lonjakan DPK sebesar Rp48 miliar dari Juni ke Juli 2025. Jika dibandingkan dengan Desember 2024, kenaikan DPK mencapai Rp99,391 miliar atau 9,20 persen.

Selain itu, Bank Dinar juga mendapat dukungan dari pendanaan linked yang disalurkan oleh bank umum. Kombinasi strategi ini sukses mengukuhkan posisi Bank Dinar sebagai pemimpin aset tertinggi di antara seluruh BPRS di Indonesia, bahkan melampaui lembaga keuangan dari daerah dengan skala ekonomi lebih besar.

Menurut Mustaen, pencapaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa bank daerah juga mampu bersaing di tingkat nasional. “Meski NTB termasuk 12 provinsi terbawah dalam kontribusi sektor keuangan nasional, Bank Dinar berhasil membuktikan bahwa dari daerah pun bisa menyalip,” tegasnya.

Meski 54 persen portofolio pembiayaan tergolong konsumtif, Mustaen menegaskan bahwa banyak dana yang disalurkan justru digunakan untuk aktivitas produktif. “Contohnya, pembiayaan emas. Meski dikategorikan konsumtif, kenyataannya emas sering dijadikan agunan untuk modal usaha. Begitu pula dengan pembiayaan pegawai yang digunakan untuk membuka usaha sampingan,” jelasnya.

Portofolio Bank Dinar juga terdiri dari 23,7 persen pembiayaan berbasis emas, dan sisanya disalurkan ke sektor riil seperti properti.

Mustaen menegaskan bahwa strategi utama Bank Dinar adalah menjaga keseimbangan antara pembiayaan konsumtif dan produktif, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. “Menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif memang penting, tapi jangan sampai terjebak pada sektor berisiko tinggi yang akhirnya gagal bayar,” ujarnya.

Ke depan, Mustaen menyadari bahwa tantangan lebih besar menanti. Bank Dinar harus menjaga momentum dan tidak terlena dengan posisi teratas saat ini. “Pertahanan paling buruk adalah berhenti tumbuh. Kita harus terus berinovasi dan memahami karakter lokal kita sendiri,” tegasnya.

Di tengah perubahan dan kompleksitas regulasi industri keuangan syariah, Bank Dinar terus memperkuat fondasi tata kelola. “Kami harus terus belajar dan adaptif. Mengelola dana masyarakat tidak hanya soal keuntungan, tapi soal kepercayaan dan tanggung jawab,” tutup Mustaen. (bul)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO