spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaNTBSUMBAWA BARATHingga Juli, 25 Kasus Kekerasan Seksual Anak Terjadi di KSB

Hingga Juli, 25 Kasus Kekerasan Seksual Anak Terjadi di KSB

Taliwang (Suara NTB) – Jumlah kasus tindak kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2025 ini ternyata cukup tinggi. Berdasarkan data UPTD Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) setempat, tercatat setidaknya sudah ada 25 kasus yang terjadi mulai Januari hingga Juli 2021.

“Tahun lalu hingga Desember ada 30 kasus yang kami tangani. Jadi jelas tahun ini lebih banyak, karena baru 6 bulan sudah ada 25 kasus yang masuk laporannya,” sebut Kepala UPTD PPA, DP2KBP3A KSB, Erni Patriani kepada wartawan, Selasa, 5 Agustus 2025.

Berdasarkan wilayah, kasus paling banyak terjadi di kota Taliwang. Kemudian menempati urutan selanjutnya Kecamatan Maluk, Brang Rea dan Seteluk. “Taliwang, Maluk dan Brang Rea memang selalu yang teratas jumlah kasus terbanyak setiap tahunnya,” kata Erni.

Selain dari sisi jumlah, Erni mengungkap hal miris dari kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak di tahun ini. Yakni dari sisi bentuk tindak aksinya. Ia menyebut, ada 2 kasus yang baru-baru ini terjadi berupa tindakan rudapaksa, di mana korbannya seorang anak dan pelakunya pun merupakan anak lebih dari satu orang. “Ini dua kasus berberda. Korbannya adalah anak-anak, ia dirudapaksa oleh pelaku anak yang jumlahnya lebih dari satu orang. Ada yang (pelakunya) 9 orang ada yang 8 orang,” sebutnya.

Pada dua kasus itu, dituturkan Erni modusnya sama. Korban memiliki hubungan asmara (pacaran) dengan salah satu pelaku yang kemudian dijebak sehingga peristiwa merenggut masa depan anak tersebut terjadi.

“Mirisnya mereka awalnya hanya kenal lewat HP. Pacaran. Diajak jalan dan kemudian dijebak sampai terjadi hal tidak diinginkan itu,” urainya.

Terhadap kasus tersebut proses penanganannya sedang berjalan. UPTD PPA saat ini terus mendampingi para korban dan diberikan perlindungan dan rehabilitasi. “Kami kerja sama dengan Disos untuk menitipkan korban ke Sentra Paramita, Mataram,” katanya.

Lebih jauh ia menyampaikan, tindak kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan orang terdekat juga masih terjadi. Pelaku berasal dari lingkaran keluarga si anak korban atau sekitar lingkungannya masih menjadi modus yang paling umum. “Yang dilakukan oleh ayah tirinya juga masih ada kasus seperti itu,” cetusnya.

Di bagian lain ditanya mengenai jumlah kekerasan terhadap perempuan? Erni menyebut sementara ini dari laporan yang masuk sudah sebanyak 32 kasus. Ia menyebut, jumlah itu dibanding tahun lalu juga turut mengalami peningkatan. “Baik kekerasan terhadap anak dan perempuan, prediksi kami meningkat di tahun 2025 ini,” katanya.

Masih tingginya kasus kekerasan dan pelecahan seksual terhadap anak di bawah umur, disebabkan beberapa faktor. Utamanya adalah kelalaian orang tua dalam memperhatikan keseharian sang anak, salah penggunaan gadget hingga faktor rendahnya SDM maupun pendidikan para pelaku.

“Sekarang ini anak-anak bebas bawa HP. Di sinilah tantangan orang tua untuk tetap mengawasi isi HP sang anak. Jangan sampai tiba-tiba ada situs pornografi yang menjadikan anak tertarik dan ingin menontonnya,” papar Erni seraya mengimbau para orang tua selalu mengawasi anak-anaknya. “Para orang tua agar menguatkan pendidikan agama kepada anak-anaknya sebagai tameng menghindarkan anak dari berbagai hal tak diinginkan,” imbuhnya. (bug)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO