spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEPertumbuhan Ekonomi Tertekan

Pertumbuhan Ekonomi Tertekan

PERTUMBUHAN ekonomi NTB di triwulan II tahun 2025 terhadap triwulan II 2024 mengalami kontraksi hingga 0,82 persen. Di triwulan pertama, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi minus 1,47 persen secara year on year (y-o-y).

Plt Kepala Biro Perekonomian Setda NTB, Muslim menyatakan kontraksi disebabkan oleh adanya efisiensi dan larangan ekspor konsentrat PT AMNT. Kondisi ini tidak bisa dihindari, sebab berkaitan dengan adanya kebijakan nasional yang melarang ekspor konsentrat dan efisiensi sesuai dengan Inpres Nomor 1 Tahun 2025.

“Kondisi smelter ini kan belum bisa mengekspor, jadi siapapun pemerintahnya pasti mengalami hal yang sama seperti ini,” ujarnya, Jumat, 8 Agustus 2025.

Kurangnya belanja pemerintah juga menyebabkan adanya persoalan ekonomi di NTB. Berdasarkan data BPS, administrasi pemerintahan minus hingga 2,04 persen.

Kegiatan fisik pemerintah yang biasanya memutar peredaran bahan baku, logistik, hingga membayar upah tenaga kerja ikut berkurang, serapan tenaga kerja juga menjadi nol. Efeknya, kebijakan efisiensi sangat terasa hingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

“Kalau dulu hampir semua OPD strategis yang berpengaruh terhadap ekonomi punya DAK. Salah satunya Dinas Kelautan dan Perikanan, dari semula Rp50 miliar sekarang nol. Artinya serapan tenaga kerja padat karya hilang, belanja bahan baku juga hilang,” ungkapnya.

Meski begitu, ia tetap optimistis ketika smelter PT Amman Mineral  Industri (AMIN) mulai berproduksi secara maksimal, ekonomi NTB akan tumbuh positif. Sekarang saja, industri smelter bertumbuh signifikan hingga 66,19 persen dibandingkan triwulan yang sama di tahun lalu.

Apalagi, dengan adanya peningkatan di sektor non tambang seperti pertanian yang menunjukkan pertumbuhan hingga 3,71 persen.

Adapun untuk mencegah ketergantungan ekonomi di sektor pertambangan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB itu mendorong hilirisasi di sektor-sektor non-tambang sebagai penopang ekonomi sementara. Sembari menunggu smelter beroperasi penuh dan kembali memberi kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi NTB.

“Satu hal yang menggembirakan, ada pergerakan positif terhadap industri olahan pertanian secara umum, termasuk kelautan dan perikanan. Kita harus optimis ketika investasi PT AMNT sudah berjalan penuh, keseimbangan pertumbuhan ekonomi akan membaik,” katanya.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistika (BPS) NTB, ekonomi NTB triwulan II 2025 berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp27,83 triliun, atau turun sebesar 0,82 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan triwulan II-2024.

Kontraksi disebabkan oleh penurunan tajam pada kategori pertambangan dan penggalian sebesar 29,93 persen. Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa juga mengalami penurunan signifikan hingga 40,02 persen.

Kategori Administrasi Pemerintahan juga turut menyumbang kontraksi, menyusul penurunan realisasi belanja pegawai dari Rp3,2 triliun menjadi Rp2,9 triliun.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi NTB dari Triwulan I hingga Triwulan II tahun 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 1,11 persen. (era)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO