Mataram (Suara NTB) – Penyelenggaraan Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) NTB selama sepekan memberi dampak positif pada ekonomi Kota Mataram. Salah satunya dirasakan Lombok Epicentrum Mall (LEM) yang mencatat kenaikan pengunjung hingga 11 persen selama ajang tersebut.
General Manager (GM) Lombok Epicentrum Mall, Salim Abdad, mengatakan Fornas NTB membawa manfaat besar bagi mal dan tenant. “Secara keseluruhan bagus dampak ke kita maupun ke tenant. Kalau secara pengunjung, 10 sampai 11 persen,” ujarnya, pada pekan kemarin.
Peningkatan tidak hanya terjadi dari sisi kunjungan. Menurut Salim, pendapatan juga melonjak signifikan. “Kalau secara finansial juga ada peningkatan. Tercapai di angka 80 hingga 100 persen,” katanya.
Banyaknya peserta Fornas NTB yang bertanding di Mataram ikut memicu kenaikan ini. Sebagian venue pertandingan berada di Kota Mataram dan bahkan di dalam LEM, sehingga memudahkan peserta dan pendukung untuk datang.
“Dari kepesertaan turnamen di sini mungkin cukup banyak, sehingga pesertanya banyak dan ramai. Sambil nunggu jadwal pertandingan, mereka keliling, makan, belanja,” tambahnya.
Momen ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha di LEM, terutama tenant makanan, minuman, dan ritel. Beberapa brand bahkan melaporkan penjualan harian mereka naik selama pelaksanaan Fornas NTB.
Pengunjung tidak hanya dari Mataram. Banyak tamu luar daerah berbelanja oleh-oleh khas Lombok di LEM. Hal ini juga menggerakkan UMKM lokal yang menjadi mitra mal.
Salim berharap event berskala nasional seperti Fornas NTB lebih sering digelar di NTB. Selain meningkatkan perputaran ekonomi, kegiatan ini juga mengangkat pariwisata dan citra daerah.
Dampak positif Fornas juga dirasakan sektor perhotelan. Selama sepekan pelaksanaan, perputaran uang di hotel berbintang dan non-berbintang di Mataram diperkirakan mencapai Rp20 miliar.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), I Made Adiyasa, memaparkan perhitungan dari sisi akomodasi.
“Kalau kita lihat perputaran uangnya di hotel, gambaran dari saya. Di Mataram itu keseluruhan hotel berbintang dan non-berbintang ada sekitar 7.000 kamar. Kalau dirata-ratakan 7.000 kamar dengan harga terendah Rp500 ribu per malam, maka sudah ada kurang lebih Rp3,5 miliar hingga Rp4 miliar per hari. Itu hotel doang. Kalau transportasi saya nggak tahu ya,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika seluruh peserta menginap selama lima malam, maka total perputaran uang dari akomodasi hotel bisa mencapai Rp20 miliar selama periode Fornas, dari 25 Juli hingga 1 Agustus.
Selain hotel, pelaku UMKM dan transportasi juga merasakan lonjakan permintaan selama ajang Fornas NTB berlangsung. (hir)



