Taliwang (Suara NTB) – Ribuan Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai merasakan dampak kekeringan tahun ini. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, warga yang terdampak itu tersebar di tiga desa pada dua kecamatan berbeda.
“Sementara laporan masuk dari tiga desa, yakni Desa Seloto di Kecamatan Taliwang dab Desa Poto Tano serta Desa Kiantar di Kecamatan Poto Tano,” terang Kepala Pelaksana BPBD KSB, Abdullah, Jumat, 15 Agustus 2025.
Dalam data BPBD KSB, total KK yang terdampak di tiga desa tersebut sebanyak 1.061 KK dengan jumlah jiwa mencapai 3.300 jiwa. Rinciannya di Desa Kiantar sebanyak 329 KK dan 987 jiwa, di Desa Poto Tano sebanyak 484 KK dengan 1.453 jiwa sementara di Desa Seloto sebanyak 248 KK dengan 868 jiwa terdampak.
Kekeringan yang menyebabkan krisis air bersih di tiga desa itu dikatakan Abdullah sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Setelah mendapat laporan, pihaknya pun langsung mengambil langkah-langkah penanganan dengan cara mendistribusikan air bersih untuk warga di desa-desa tersebut.
“SK tanggapnya (darurat) masih dalam proses tapi kita sudah inisiatif menyalurkan air bersih untuk membantu warga di tiga desa itu,” klaim Abdullah.
Pendiristribusian air bersih pun dilaksanakan oleh BPBD hampir setiap hari atau berdasarkan permintaan warga. Dan Abdullah mencontohkan, di Desa Seloto setiap kali pendistribusian, pihaknya mengerahkan 4 armada mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih di desa tersebut. “(Mobil) tangki kapasitas 5 ribu liter, kalau tidak salah. Jadi di Seloto itu sekali distribusi 20 ribu liter dan begitu juga di desa lainnya,” paparnya.
Abdullah menyatakan, krisis air bersih yang dialami warga di tiga desa itu baru tahap awal. Ia memperkirakan dalam beberapa waktu ke depan kondisi sebagai efek musim kemarau itu akan terus meluas ke sejumlah kecamatan dan desa lainnya. “Tadi pagi (Jumat (15/8)). kita dapat laporan baru dari (Desa) Lamusung, warga di sana minta didrop air bersih juga. Dan itu belum kita masukkan data resmi sebagai desa terdampak kekeringan,” bebernya.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, setidaknya ada belasan desa di enam kecamatan yang warganya selalu mengalami krisis air bersih setiap musim kemarau tiba. Dan untuk membantu warga, Pemda KSB melalui BPBD selalu menetapkan status tanggap darurat dan mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki sebagai solusi membantu warga melalui kondisi cuaca ekstrem tersebut. (bug)


