Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Provinsi NTB bersama Dinas Kesehatan Kota Mataram resmi meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk anak sekolah sebagai implementasi Program Transformasi Kesehatan yang digagas Presiden RI, Prabowo Subianto. Peluncuran atau Launching CKG perdana berlangsung di SMPN 15 Mataram, Selasa, 19 Agustus 2025. Program ini tidak sekadar seremoni, melainkan langkah strategis untuk melakukan deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) dan gangguan kesehatan lain.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri, menegaskan bahwa CKG sekolah merupakan pengembangan dari program CKG umum yang sudah berjalan. “Kalau sebelumnya kita fokus untuk ulang tahun dan masyarakat umum, sekarang sudah merambah ke anak sekolah. Ini hal yang positif karena melalui deteksi dini kita bisa menemukan kasus lebih awal, mulai dari anemia, hipertensi, hingga diabetes melitus,” ujarnya.
Hasil temuan CKG umum yang sudah dilaksanakan per 16 Agustus 2025 mencatat lebih dari 108 ribu orang telah diperiksa atau 86,9 persen dari target 120 ribu sasaran. Dari data tersebut, tren penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus menunjukkan angka signifikan, yakni mencapai 45–50 persen kasus. “Penyebab utamanya adalah gaya hidup dan pola makan masyarakat. Data NTB mencatat dalam 10 tahun terakhir tren peningkatan PTM sudah di atas 60 persen,” jelas Fikri.
Ia menambahkan, kini kasus diabetes tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga mulai muncul pada anak muda bahkan usia sekolah. “Kita sudah melihat kasus juvenil diabetes melitus hingga ada anak yang harus cuci darah. Pola konsumsi manis, jajanan sekolah yang tidak sehat, dan fast food menjadi faktor risiko yang harus diwaspadai,” tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfahan, menuturkan bahwa pelaksanaan CKG siswa akan berjalan sepanjang tahun. “Target kita 160 ribu siswa di Kota Mataram. Tidak mungkin selesai cepat, jadi kita lakukan bertahap. Setiap Puskesmas mengampu sekolah di wilayahnya dan membuat jadwal pemeriksaan. Misalnya di SMPN 15 yang siswanya 1.141 orang, butuh sekitar 10 hari untuk menuntaskan pemeriksaan,” jelas Emirald.
Selain pemeriksaan fisik, laboratorium, visus, hingga telinga, program ini juga mencakup skrining kesehatan jiwa dengan melibatkan tenaga programer jiwa. “Screening awal bisa dilakukan petugas Puskesmas, kalau ada indikasi berat akan dirujuk ke psikolog atau rumah sakit,” tambah Emirald.
Pihak sekolah menyambut baik kolaborasi ini. Kepala SMPN 15 Mataram, Sri Wahyu Indriani, mengatakan program CKG sejalan dengan Gerakan Sekolah Sehat (GSS) yang sudah dijalankan di sekolahnya selama dua tahun terakhir.
“Ada lima pilar GSS, salah satunya sehat gizi. Kami sangat terbantu karena profil kesehatan siswa nanti bisa diketahui jelas, sehingga bisa disandingkan dengan program gizi yang sudah berjalan. Selama ini siswa sudah membawa bekal makanan bergizi dari rumah, dan ini akan terlihat hasilnya lewat raport kesehatan,” ujarnya.
Dari total 1.141 siswa SMPN 15 Mataram, sebanyak 650 siswa sudah terdaftar ikut CKG, dengan hari pertama pemeriksaan dimulai dari tiga kelas VII. Pihak sekolah berharap seluruh siswa bisa mendapatkan raport kesehatan sehingga orang tua dapat lebih peduli dengan kondisi anak mereka. (don/*)


