Dompu (suarantb.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu selalu menemukan dua kasus baru penderita HIV di Kabupaten Dompu setiap bulan. Temuan kasus ini berdasarkan hasil skrining oleh petugas terhadap kelompok rentan.
Kelompok rentan, kini semakin tertutup terhadap pemeriksaan oleh tim medis. “Ketika dilakukan skrining, setiap bulan ada dua kasus baru ditemukan. Kita tidak bisa buka (kelompok rentan). Kita sedang dekati mereka untuk mau bergabung mengikuti sosialisasi dan pemeriksaan. Berbeda dengan daerah lain yang mau terbuka dengan tenaga Kesehatan,” kata Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Maria Ulfah, SST., M.Kes., Rabu (20/8/2025) siang.
Jumlah kasus HIV baru di Dompu yang ditemukan selama 2025 hingga Juli, sebanyak 14 kasus. Sementara pada 2024 lalu ada 24 kasus baru juga ditemukan. Temuan kasus baru itu dalam proses skrining yang dilakukan petugas di lapangan. “Penderita bukan dari satu dua kelompok, ada beberapa kelompok rentan,” jelasnya.
Adanya stigma negatif terhadap penderita HIV membuat petugas harus lebih membatasi informasi agar kelompok ini mau terbuka dan bisa diedukasi. Kendati proses penyebaran penyakit ini terjadi melalui hubungan seksual atau suntikan.
Di Dompu, jumlah penderita yang aktif berobat di RSUD Dompu sebanyak 97 kasus selama 2020-2024. Jumlah ini bisa jadi lebih banyak dari data sebenarnya, karena fenomena HIV seperti gunung es. Penderita yang terlihat sedikit, tetapi sejatinya lebih banyak.
Orang Tua Harus Waspada
Para orang tua pun
diingatkan untuk lebih waspada terhadap pergaulan anak-anaknya. Jangan sampai tergiur bujukan, sehingga terlibat pergaulan bebas dan melakukan hubungan seks dengan gonta ganti pasangan, terlibat hubungan seks dengan kelompok homosek, ataupun penggunaan jarum suntik yang sama dalam penggunaan narkoba. Ketika suami terjangkit HIV, tentu akan menyebar ke istrinya. Seorang ibu bisa menyebarkan HIV ke anaknya melalui ASI.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri mengungkapkan dalam 20 tahun terakhir ada 2.490 kasus HIV ditemukan di NTB. Mayoritas kasus berasal dari kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), pekerja seks komersial, waria, serta pasangan dari orang dengan HIV. (ula)



