TINGKAT kematian ibu dan anak di Kota Mataram, mengalami penurunan sampai bulan Juli 2025. Kebijakan USG dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi ibu hamil di Puskesmas dinilai jadi solusi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. H. Emirald Isfihan menyebutkan, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) cenderung mengalami penurunan. Di tahun 2025, kematian pada ibu melahirkan 3 kasus dan kematian pada bayi 28 kasus. Dibandingkan tahun 2025, angka kematian pada ibu 5 kasus dan angka kematian pada bayi 60 kasus. “Tahun ini, kematian ibu dan bayi turun dibandingkan tahun sebelumnya,” klaim Emirald ditemui pada, Rabu, 20 Agustus 2025.
Strategi penurunan risiko kematian pada ibu dan anak saat melahirkan adalah pertama, sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan tidak boleh dilakukan di Polindes. Proses persalinan minimal di puskesmas dan rumah sakit.
Kedua, pihaknya sudah memberikan pelayanan USG kesehatan gratis di seluruh puskesmas di Kota Mataram. Upaya ini dilakukan guna mendeteksi kelainan pada bayi serta mendeteksi perkembangan janin dalam proses kehamilan. “Dengan ini kita harapkan kematian bayi dan ibu menurun,” jelasnya.
Emirald menjelaskan, kematian pada ibu dan anak saat persalinan diakibatkan beberapa faktor. Diantaranya, naiknya tekanan darah pada ibu hamil yang menyebabkan kematian. Khusus pada bayi disebabkan berat badan rendah atau lahir prematur.
Bayi lahir prematur dipicu pola asupan gizi bagus saat kehamilan serta ibu hamil tidak pernah memeriksakan kesehatan. “Janin kecil atau kondisi kesehatan ibunya yang memaksa harus melahirkan belum waktunya,” ujarnya.
Ia berpesan kepada ibu hamil di Kota Mataram memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disiapkan pemerintah seperti layanan USG secara gratis dan lain sebagainya. (cem)


