Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima berhasil menekan angka stunting. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025 mencatat angka stunting di Bima turun menjadi 23,5 persen, dari sebelumnya 36,7 persen. Penurunan angka stunting di Bima mencapai 13,2 persen.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bima, Nurdin, menegaskan penurunan ini berkat intervensi langsung sejak tahun lalu.
“Selama tahun 2024 hingga kini (2025) kami langsung intervensi kepada sasaran stunting. Kami validasi data, berapa yang berisiko stunting sampai anak stunting. Kami turun memberikan bantuan setiap hari berupa penambahan nutrisi berupa makanan yang kaya protein dan gizi,” jelasnya saat ditemui Suara NTB, Kamis, 21 Agustus 2025.
DP3AKB bersama lintas sektor menjalankan strategi berlapis. Mereka menyalurkan makanan tambahan bergizi bagi ibu hamil, balita, dan batita. Mereka juga memberi edukasi berkelanjutan.
“Kami tetap melakukan pelatihan kepada para kader posyandu. Selain itu ada petugas PKK kami, ada bina keluarga kami, yang memberikan bimbingan langsung kepada ibu balita dan batita maupun ibu hamil,” tambahnya.
Nurdin menyebut Kecamatan Sape masih mencatat angka stunting tertinggi. Kondisi ini muncul karena mayoritas orang tua bekerja sebagai petani sehingga waktu bersama anak sangat terbatas. Sebaliknya, Kecamatan Palibelo mencatat angka stunting terendah. Keberhasilan Palibelo lahir dari peran aktif posyandu, kader PKK, serta dukungan anggaran desa untuk program gizi.
Pemerintah desa juga ikut memperkuat intervensi. Desa memiliki alokasi anggaran khusus untuk percepatan penurunan stunting.
“Di pemdes kan juga sudah ada anggaran. Jadi bersama tim KB yang ada di setiap kecamatan, mereka setiap hari memberikan makanan yang kaya nutrisi dan bergizi. Jadi mereka bisa terus pantau,” katanya.
Pemkab Bima menargetkan angka stunting turun hingga 10 persen pada akhir 2025. “Kami optimis bisa terwujud. Kalau zero stunting itu omong kosong. Pasti ada aja (kasus stunting),” ujarnya.
Nurdin menegaskan capaian ini lahir dari kerja kolektif semua pihak. Pemkab tidak hanya mengandalkan dinas teknis, tetapi juga menggandeng PKK, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Ia berharap penurunan ini terus berlanjut hingga target nasional tercapai.
“Alhamdulillah angka kita sudah turun jauh. Tapi kita tidak boleh lengah. Kita harus tetap bekerja keras agar anak-anak Bima sehat dan bebas dari stunting,” tutupnya. (hir)


