Bima (Suara NTB) – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bima yang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Rite, Kota Bima, menghadirkan inovasi alat filter air bersih untuk warga. Program utama ini menjawab persoalan air yang selama ini menjadi masalah serius masyarakat setempat.
Ketua KKN, Muhammad Ardhi Febriyan, menjelaskan bahwa ide program berawal dari hasil observasi di lapangan. “Yang melatarbelakangi program kami ini adalah berdasarkan hasil observasi. Kami menemukan adanya masalah air bersih. Di Rite ini bukan tidak ada air, tapi airnya kurang layak digunakan sehari-hari. Maka dari itu kami berpikir bagaimana caranya warga Rite bisa menikmati air bersih untuk kebutuhannya sehari-hari,” kata Ardhi kepada Suara NTB, Kamis (21/8/2025).
Menurut Ardhi, air di Kelurahan Rite memiliki karakteristik berbau dan berwarna. Untuk memastikan kualitasnya, tim KKN membawa sampel ke Laboratorium Kesehatan Kota Bima. Hasil pengujian menunjukkan air tidak memenuhi standar air bersih Kementerian Kesehatan, baik secara fisika, kimia, maupun mikrobiologi.
Dari hasil itu, kemudian ia dan timnya membuat alat filterisasi dengan mengadopsi teknologi penyaringan sederhana. “Alat yang kami buat berfungsi ganda. Pertama, menyaring air agar bau, rasa, dan warna hilang. Kedua, sebagai disinfeksi air. Maksudnya, alat kami mampu membunuh kuman dan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga air aman dan layak,” terang Ardhi.
Alat filter tersebut memanfaatkan media penyaring berupa batu zeolit, pasir silika, pasir bersih, dan karbon aktif. Selain itu, mereka menambahkan kaporit untuk membunuh bakteri. Dengan kombinasi itu, alat dapat membersihkan air secara fisika, kimia, dan mikrobiologi.
“Kapasitas alat filter kami bisa menghasilkan 200 sampai 300 liter per hari. Jumlah itu bisa lebih besar jika tekanan air tinggi. Bahkan bisa mencapai 1.000 liter per hari,” ungkapnya.
Mereka membuat dua ukuran alat filter. Versi kecil yang dipasang di kran air menelan biaya sekitar Rp100 ribu. Versi besar untuk penampungan air biaya pembuatannya sekitar Rp1 juta.
“Tantangan kami ada di proses pembuatan karena alat ini bersifat eksperimen. Sebelum sempurna, kami beberapa kali gagal. Selain itu, biaya juga terbatas. Tapi dengan budget (anggaran, red) sedikit, kami maksimalkan agar tetap tercipta alat yang sempurna,” ujarnya.
Masyarakat menyambut antusias inovasi mahasiswa tersebut. Warga ikut membantu pemasangan alat filter di penampungan air. Selain itu, tim KKN memberikan bimbingan teknis agar masyarakat mampu merawat dan mengoperasikan alat secara mandiri setelah masa KKN selesai.
Lurah Rite, H. Johan, mengapresiasi program mahasiswa UM Bima ini. “Alhamdulillah mereka punya inisiatif membantu permasalahan kami di sini. Memang kondisi air di Kelurahan Rite saat musim kemarau seperti ini kurang bagus dan memang dibutuhkan filter. Dengan adanya program ini, alhamdulillah mereka bisa membantu,” ujarnya kepada Suara NTB, Kamis (21/8/2025).
Ardhi berharap pemerintah Kota (Pemkot) Bima dapat mendukung pengembangan inovasi tersebut dalam skala lebih besar. “Kami belajar bagaimana kuatnya kerja sama dalam menyelesaikan masalah dan tentang bagaimana tidak pantang menyerah. Sesulit apapun kendala, kalau dilakukan konsisten pasti berhasil,” tutupnya. (hir)


