Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram terpaksa membatalkan rencana pembelian dua unit insinerator yang sebelumnya diusulkan untuk mengurangi volume sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya.
Keterbatasan anggaran menjadi alasan utama. Dari dua unit yang direncanakan, Pemkot hanya mampu merealisasikan pembelian satu unit melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2025.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, mengungkapkan bahwa pengadaan dua unit insinerator telah dirancang dalam rencana kerja tahun ini. Namun, keterbatasan fiskal daerah memaksa pengurangan rencana tersebut. “Anggarannya tidak cukup, jadi hanya bisa satu unit dulu untuk tahun ini,” ujarnya, Kamis, 21 Agustus 2025.
Untuk pembelian satu unit insinerator, Pemkot Mataram mengalokasikan dana sebesar Rp3,5 miliar melalui APBD-P 2025. Alat tersebut akan menambah jumlah insinerator yang sebelumnya telah diberikan RSUD Kota Mataram, sehingga total menjadi dua unit.
Nizar menjelaskan bahwa insinerator merupakan solusi teknologi dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS). Mengingat terus meningkatnya volume sampah rumah tangga, insinerator dinilai lebih efektif dalam menekan beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
“Kalau hanya mengandalkan pengangkutan dan penimbunan di TPA, lama-lama tidak akan cukup. Kita butuh teknologi yang bisa memangkas volume sampah langsung dari sumbernya,” jelasnya.
Sebelumnya, Pemkot Mataram telah mengusulkan pengadaan dua unit insinerator senilai Rp5 miliar atau Rp2,5 miliar per unit melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2025. Rencananya, dua unit itu akan ditempatkan di masing-masing kecamatan dengan volume sampah terbesar.
Namun, karena keterbatasan anggaran, pembelian unit kedua ditunda dan akan diusulkan kembali pada APBD murni tahun 2026.
DLH memastikan bahwa meskipun hanya satu unit yang terealisasi tahun ini, program pengurangan volume sampah akan tetap berjalan. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan pengelolaan berbasis masyarakat, edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga, serta peningkatan fasilitas daur ulang yang lebih efektif.
“Kami tetap berkomitmen mengurangi sampah, tidak hanya lewat teknologi tapi juga lewat perubahan perilaku masyarakat,” tutup Nizar. (pan)



