Selong (suarantb.com) – Suasana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mendadak heboh pada Selasa, 26 Agustus 2025. Pasalnya, Bunda Literasi Lotim, Hj. Ra’yal Ain Warisin, tiba-tiba melakukan kunjungan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kehadiran istri Bupati Lotim sekaligus Ketua TP PKK itu sontak membuat seluruh jajaran DPK terkejut.
Kepala DPK Lotim, Dr. H. Mugni, mengaku bangga dengan cara Bunda Literasi hadir tanpa protokoler. Menurutnya, hal itu menunjukkan kondisi kantor yang apa adanya tanpa rekayasa.
“Saya bangga beliau hadir tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kalau ada info pasti ada persiapan, bisa jadi banyak rekayasa. Saya lebih suka kondisi natural,” ujarnya.
Mugni menceritakan, kehadiran Bunda Literasi sekitar pukul 09.00 Wita membuat staf ribut menyebut nama beliau. Saat itu dirinya tengah membaca buku Paradigma Nusantara karya Dr. A. Dedi Mulawarman yang diberikan oleh mahasiswa Universitas NW Mataram. Ia pun segera menyambut kedatangan Bunda Literasi di ruang kerjanya.
Dalam kunjungan tersebut, Bunda Literasi didampingi Sekretaris TP PKK, Dra. Hj. Sumantiar, dan Wakil Ketua TP PKK, Dra. Hj. Sumarni Subagio. Agenda utama pertemuan membahas program-program literasi masyarakat yang akan dieksekusi tahun 2025 dan seterusnya.
Hj. Ra’yal menyampaikan hasil rapat koordinasi TP PKK se-NTB bersama TP PKK Provinsi NTB. Salah satu poin penting, seluruh program pemerintah termasuk literasi harus diarahkan ke desa/kelurahan yang masih berstatus miskin ekstrem.
“Di Lombok Timur masih ada 31 desa/kelurahan yang menyandang status miskin ekstrem. Target Bupati tahun 2026, status itu harus tuntas. Program literasi juga harus kita arahkan ke desa-desa tersebut,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Kadis DPK Lotim H. Mugni menegaskan seluruh kegiatan literasi masyarakat seperti Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) atau pembangunan literasi masyakarb maupun Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) akan difokuskan pada 31 desa tersebut. Prioritas utama adalah memastikan setiap desa memiliki perpustakaan desa atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
“Kalau kelembagaan perpustakaan sudah ada, baru kita upayakan koleksi buku. Tahun ini Perpusnas memberikan bantuan 1.000 eksemplar buku untuk tiap Perpustakaan/TBM. Tahun 2026, bantuan ini bisa diarahkan ke desa-desa miskin ekstrem,” jelas Mugni. Di Lotim, kayanya ada 54 Perpustakaan/ TBM yang mendapatkan bantuan.
Menjawab pertanyaan apakah membaca bisa mengentaskan kemiskinan, Mugni menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci.
“Rasulullah SAW bersabda, bila ingin dunia dengan ilmu, bila ingin akhirat dengan ilmu, dan bila ingin dunia akhirat harus dengan ilmu. Membaca itu pintu utama. Ibu-ibu bisa baca buku cara membuat kue, bapak-bapak baca buku cara beternak lele. Dari situ muncul keterampilan, lalu menjadi sumber penghasilan,” tutupnya dengan senyum khasnya. (rus)


