Tanjung (Suara NTB) – Pemda Lombok Utara melalui BPBD Kabupaten Lombok Utara sedang dalam proses menyusun literasi kebencanaan sebagai bahan ajar di kurikulum sekolah dari tingkat SD dan SMP di Lombok Utara. Langkah ini sebagai upaya awal dalam proses mitigasi sehingga generasi ke depan memahami dan mengetahui langkah yang dilakukan saat menghadapi situasi force majeure.
Kalak BPBD KLU, H. Zaldy Rahardian, ST., Kamis, 28 Agustus 2025 mengungkapkan, penyusunan literasi kebencanaan sedang dibahas bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Dinas Dikbudpora dan unsur terkait lainnya. Pembahasan materi tersebut berlangsung sejak Rabu, 27 Agustus 2025 dan diharapkan dapat selesai lebih cepat sehingga dapat diajarkan di sekolah-sekolah pada tahun ajaran 2026 mendatang.
“Tragedi (bencana gempa) 2018 menjadi titik balik bagi kita semua untuk memahami pentingnya siklus kebencanaan, agar generasi mendatang lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana,” ungkap Zaldy.
Ia menjelaskan, dari 14 potensi bencana di Indonesia, 11 potensi ancaman bencana berada di Lombok Utara. Mulai dari letusan gunung api, gempa bumi, tanah longsor, banjir, banjir rob, angin puting beliung, hingga dampak kekeringan.
Kejadian gempa 2018 menurut dia, merupakan kejadian luar biasa yang dampaknya dirasakan sampai saat ini oleh seluruh masyarakat Lombok Utara. Kejadian itu diharapkan tidak berlalu begitu saja. Tetapi, dokumentasi (foto dan video) peristiwa saat itu, merupakan bahan edukasi yang sangat penting bagai generasi muda.
“Dokumentasinya sebagai bahan edukasi yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak. Dengan begitu, anak-anak dapat belajar langsung dari pengalaman nyata, sehingga mereka lebih mudah memahami pentingnya mitigasi bencana,” sambungnya.
Lebih lanjut, Zaldy menyatakan bahwa Pemda Lombok Utara pada tataran akademik sudah menyusun dokumen kontigensi pengurangan risiko bencana. Dokumen tersebut kemudian diperkuat dengan Peraturan Bupati Lombok Utara Nomor 43 Tahun 2023 tentang Pedoman Gerakan Literasi Kebencanaan. Dasar inilah, Pemda melalui BPBD menyusun literasi sebagai acuan ajar bagi OPD terkait untuk memberikan pemahaman mitigasi bencana kepada siswa di setiap satuan pendidikan.
“Kegiatan yang kita laksanakan ini diharapkan dapat menghasilkan output positif bagi pembangunan Lombok Utara, khususnya dalam bidang kebencanaan.” (ari)



